TRADISI PERANG UNTEK
<p style="margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">No. Penetapan : 2051/Dit.PK/Sertifikat/2024</span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">Tradisi Perang Untek di Desa Adat Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, berlangsung di Pura Taman setiap satu tahun sekali, yaitu bertepatan dengan Purnamaning Sasih Kapitu (bulan purnama penuh). Perang Untek adalah perang dengan memakai Nasi tumpeng dan nasi penek. Nasi tumpeng berbentuk lonjong berkerucut sebagai simbol Purusa (maskulin) sejumlah 555 dan nasi penek berbentuk bundar lempeh sebagai simbol Pradana (feminim) sejumlah 777 mengiringi prosesi upacara Ngusaba Masa di Pura Taman Kiadan dan upacara Aci Peneduh di Pura Desa Kiadan. Dengan suara tetabuhan yang ditabuh bertalu-talu, yang laki-laki berdiri di sisi timur melempar nasi tumpeng ke pihal perempuan yang berdiri di sebelah barat. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat Desa Adat Kiadan, yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) atas berlimpahnya hasil panen di wilayah desa tersebut. Dengan melakukan upacara Perang Untek ini akan meningkatkan masyarakat Desa Adat Kiadan akan opertemuan yang dilakukan oleh Hyang Siwa Pasupati dengan Dewi Uma atau Dewi Hyang Nini Bhagawanti pada purnama sasih kapitu. </span></span></span></span></span></span></p>
15 Jan 2026