TRADISI NGELAMPAD
<p style="margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">No. Penetapan : 60123/MPK.E/KB/2017</span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:35.45pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">Tradisi Nglampad di banjar sekarmukti Pundung, Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten   Badung berlangsung di Pura Penataran Agung pada setiap bulan Purnama dilaksanakan oleh<i> Deha teruna. </i>Tradisi Nglampad merupakan upacara <i>Dewa Yadnya </i>yaitu upacara persembahan hasil bumi kepada <i>Dewa Sangkara </i>sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dewa Sangkara adalah Dewa Penguasa tumbuh-tumbuhan, pemujaan kepada beliau bertujuan untuk memohon kekuatan jiwa dan raga yang dimiliki oleh setiap tumbuh-tumbuhan agar tumbuhan dapat hidup dan berkembang. Tradisi Nglampad merupakan tradisi tua, yang berlangsung dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi berikutnya. Prosesi upacara mulai berlangsung sekitar pukul empat pagi setiap bulan punama. ketika itu para daa teruna datang ke Pura Penataran Agung untuk <i>ngayah Ngeratengan bahan Lampad yang </i>sudah di kumpulkan itu, satu persatu L<i>ampad-Lampad </i>yang berwarna hijau dirateng (dimasak) dengan direbus. sedangkan Lampad yang bahanya dari buah nangka dan pusuh pisang itu setelah direbus,maka akan ditumbuk sampai halus, setelah itu lampad-lampad itu dimasak, maka kini saatnya untuk mempersiapkan bumbunya. Bumbu lampad disini di buat dengan parutan kelapa yang dicampur dengan bumbu-bumbu dapur lengkap yang sering disebut dengan (basa manis).Lampad-lampad yang sudah siap ditanding ( disusun).  Alas yang digunakan untuk nading  lampad terbuat dari janur yang dibuat dengan ceper, jumlah ceper yang digunakan sebanyak 148. Dari jumlah ceper tersebut dibagi menjadi dua bagian dimana satu bagian ada jumlahnya 72 buah dan satu bagian lagi jumlah 73 buah. Ceper –ceper itu diisi lampad-lampad yang sudah disiapkan. Setelah itu baru <i>Lampad-lampad</i> lainya yang telah dibumbui itu diletakan di atas ceper satu persatu dan setelah selesai <i>lampad </i>yang sudah diletakan di atas ceper kini ditata lagi di atas <i>dulang.</i> Agar <i>lampad-lampad </i>di atas dulang tidak jatuh, maka ditusuk dengan bamboo. Setelah itu <i>lampad</i> –<i>lampad </i>dihiasi dengan bunga-bunga, maka lampad itupun telah siap untuk dihaturkan atau dipersembahkan kehadapan Dewa Wisnu sebagai manefestasi <i>Ida Sang Hyang Widhi Wasa. </i>Setiap hari raya purnama banten <i>Lampad </i>yang dihaturkan adalah dua buah tandingan banten <i>lampad</i> yaitu <i>lampad daha</i> dan <i>teruna</i>.</span></span></span></span></span></span></p>
15 Jan 2026