SIAT GENI
<p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:.25in; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt 0.5in"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">No. Penetapan : 65696/MPK.E/KB/2018</span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:.25in; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt 0.5in"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">Siat Geni (perang api) Desa Adat Tuban Kabupaten Badung, berlangsung di Pura Dalem Kahyangan setiap tahun sekali, yaitu bertepatan dengan Purnamaning sasih Kapat (bulan purnama penuh) sekitar bulan Oktober. Siat Geni sebagaimana namanya, adalah perang api mengiringi prosesi upacara, pujawali, pelnegkap dari system ritual yang disyaratkan dengan tujuan untuk melepaskan segala keletehan (kekotoran) pada diri sendiri manusia. Masyarakat Desa Adat Tuban meyakini, bahwa manusia perlu melepaskan energy negative, yang disebutnya bhuta kala yang menguasainya. Dalam konteks Siat Geni kekuatan besar bhuta kala yang mencengkram manusia dihilangkan dan dibakar dengan Agni Ludra atau api dari Dewa Ludra. Api Ludra inilah persembahan rasa bakti masyarakat Tuban ke hadapan Ida Sanghyang Widhi. Persembahan rasa bakti masyarakat Tuban diwuhjudkan berupa ekspresi budaya Siat Geni.</span></span></span></span></span></span></p>
15 Jan 2026