PURA SAIH
<p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">Pura ini hanya terdiri atas satu halaman yaitu utama mandala, terdapat beberapa pelinggih di area utama mandala antara lain : </span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">1.      Pelinggih gedong Bhatara saih, yang merupakan pelinggih utama di pura ini; </span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">2.   Pelinggih Ratu Nyoman, pada pelinggih ini di letakkan arca-arca peninggalan purbakala yang antara lain terdiri dari beberapa arca perwujudan, lingga dan arca ganesha, pada awalnya pelinggih ratu nyoman ini tidak diberi atap, namun pada perkembangannya untuk melindungi tinggalan-tinggalan yang terdapat di Pura Saih akhirnya pelinggih ini di tambahkan atap; </span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">3.      Pelinggih meru tumpang 2; </span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">4.      Bale piyasan dua buah </span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">5.      Bale gong.</span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">Tinggalan-tinggalan yang terdapat di Pura Saih ditempatkan pada sebuah bangunan pelindung yang baturnya ditinggikan. Penempatan dalam sebuah bangunan pelindung, disebabkan karena ketika ditemukan tidak diketahui tempat secara pasti, dan itu terjadi hampir disemua pura yang ada di Bali.Adapun tinggalan arkeologi yang ada di pura ini adalah sebagai berikut.</span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"> </p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><b><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian)</span></span></b></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">          Pura Saih merupakan sebuah pura yang berstatus sebagai Pura Penyungsungan Subak bagi masyarakat petani di Desa Lukluk.  Pura ini diempon oleh 1 keluarga besar yang berjumlah 6 Kepala Keluarga dari keluarga besar Jero Mangku I Nyoman Sanditha. Kepercayaan-kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat pengemong dan penyiwi bahwa Pura Saih di Lukluk sebagai tempat memohom nangluk merana khususnya untuk pertanian agar terhidar dari hama penyakit, dengan ngaturang sarin tahun dan kemudian nunas pakuluh carik.</span></span></span></span></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; text-align:justify"><span style="font-size:12pt"><span new="" roman="" style="font-family:" times=""><span style="font-size:11.0pt"><span arial="" style="font-family:">          Berdasarkan Prasasti Sading disebut sejarahnya bahwa Pada tahun Saka 1072/1150 Masehi, bulan Hindu ke sembilan, pada tanggal duabelas bulan paro terang, wuku julung pujut, pada hari itulah saatnya Sri Paduka Sri Maharaja Jayasakti, menyidangkan para senapati, terutama para rakryan Mahapatih dan para Tanda Mantri di balai istana raja untuk memperbicangkan hasrat baginda Sri Maharaja Jayasakti bersama permaisurinda, hendak beranjangsana ke desa-desa di Bali yang ada di Gunung Karang. Adapun minat baginda datang ke sana, oleh karena melaksanakan tugas perintah dari ayahanda yaitu Sanghyang Guru, yang hendaknya supaya mendirikan tempat suci (padharman) di Gunung Lempuyang, demi untuk keselamatan Negara Bali ini. Baginda diiringi oleh para pendeta Siwa maupun Budha dan para Tanda Mantri. Dimana baginda Sri Jayasakti lalu dinobatkan menjadi raja oleh rakyat Bali. Baginda dinobatkan, karena baginda sangat berpengaruh dan pandai dalam segala ilmu. Baginda tiada akan mundur menghadapi orang-orang yang durhaka. Rakyat baginda sungguh-sungguh takut dan hormat kepada baginda, karena baginda sungguh-sungguh Raja Cakrawarti dan raja yang menang dan unggul dalam peperangan serta sangat bijaksana. Kini diceritakan perjalanan Sri Baginda Raja Jayasakti bersama para Brahmana. Setelah baginda tiba di desa Bantiran, maka serempak rakyat baginda memperluas daerah-daerahnya. Demikian tugas-tugas para Tanda Mantri baginda di luar desa Bantiran. Mereka membangun pura tempat persembahyangan dan juga Padharman-padharman yang sangat diutamakan. Pura Saih diperkirakan dibangun pada masa ini, dan hal itu dapat dilihat dari peninggalan yang terdapat di pura tersebut, yaitu berupa lingga yang merupakan peninggalan abad ke-11 Masehi. Selain itu pada masa lalu wilayah Desa Lukluk secara topogarfis merupakan wilayah Desa Bantiran.</span></span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 8pt; margin-right:0in; margin-left:0in"> </p> <p style="margin:0in 0in 8pt; margin-right:0in; margin-left:0in"> </p>
08 Jan 2026