PURA RAMBUT SIWI
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260114111552-X4w8l.jpg" weigth="100px" /><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260114111751-J3dBh.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Pahatan lingga dan pahatan lingga kembar yang ditemukan di Pura Rambut Siwi Desa Adat Getasan, Desa Getasan, Kecamatan Petang Kabupaten Badung bisa jadi salah satu diantara hiasan aktif atau hiasan pasif. Pahatan lingga ini terbuat dari batu padas dengan bingkai berbentu segi empat, lingga yang digambarkan pada pahatan ini berupa lingga semu. Pada dasarnya lingga merupakan lambang Dewa Siwa, yang pada hakekatnya mempunyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat Hindu. Lingga berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukri, keterangan, petunjuk, lambing kemaluan laki-laki, patung dewa, titik pemujaan, titik pusat, pusat, poros, dan sumbu. Di Bali pengertian lingga secara umum diidentikkan dengan linggih yang artinya tempat duduk atau desebut juga palinggih. Walaupun pemujaan lingga dalam bentuk patung telah bergeser, namun secara abstrak lingga diwujudkan dalam bentuk upakara yang bernama daksina linggih, bahkan pada ritual yang berkaitan pada pamujaan para wiku Siwa, lingga tetap digunakan namun untuk upacara besar semisal karya padudusan agung. Pemujaan lingga di Bali juga dilaksanakan pada upacara Siwaratri yang dilaksanakan pada tilem sasih kapitu serta pada saat upacara atma wedana dengan tingkat menengah (madya) dan besar (uttama) yang disebut maligia.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/4-20260114111817-Itrxd.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><em><strong>Lingga Dalam Relung</strong></em></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif">Lingga di dalam sebuah relung yang terbuat dari batu berbentuk balok, bagian atas memiliki tonjolan setinggi 2 cm agak kedalam menyerupai sebuah pasak, memiliki perbingkaian selebar 5 cm dibagian luar dan 2 cm dibagian dalam, kemudian di bagian tengah dipahatkan lingga setinggi 17 cm, dasar segi empat 10 cm.</span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/3-20260114111914-CaDuS.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><em><strong>Lingga Kembar</strong></em></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif">Penggambaran 2 buah lingga berjejer dalam satu sandaran dan satu  lapik. Pada lingga kembar di pura rambut Siwi ini terlihat sandaran berbentuk setengah bulatan dan lapik segi empat. sandaran bagian atas sebagian sudah pecah. Lingga kembar ini digambarkan berdiri diatas asana padma ganda, tinggi lingga adalah 27 cm. Lingga kembar (Dwi lingga)  dibuat sebagai media pemujaan Bhatara-Bhatari.</span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b>Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</b></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif">Pemujaan Siwa berkembang di Nusantara diperkirakan pada abad ke-7. Hal ini diketahui melalui prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang/ di dalam prasasti disebutkan tentang mata air suci yang mengalirkan air layaknya sungai Gangga. Pada abad ke-8, seorang raja bernama sanjaya disebutkan telah mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bentuk baktinya pada Siwa. Keterangan yang diperoleh melalui Prasasti Canggal (732 M) ini memberikan gambaran mengenai agama kerajaan Mataram kala itu adalah agama Siwa. Di Bali kata Lingga paling awal  ditemukan pada prasasti di Desa Trunyan (saka 813 dan 833 Saka) isinya tentang kewajiban penduduk desa memelihara dan menghormati Goa Jala Lingga, sebagai tempat pertapaan para Brahmana. Lingga yang ditemukan di Bali umumnya adalah lingga berbentuk arca utuh yang terdiri dari 3 bagian yaitu Brahma Baga, Wisnu Baga, dan Siwa Baga, ataupun lingga yang sederhana disebut lingga semu, umumnya sebagai penanda batas wilayah kerajaan atau desa yang diaanggap istimewa oleh penguasa. Lingga dalam bentuk pahatan di Pura Rambut Siwi Desa Adat Getasan, Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung ini kemungkinan adalah ornamen atau hiasan dari suatu bangunan lebih jarang ditemui, salah satunya ditemukan di candi sukuh yang dipahatkan pada lantai gapura.</span></span></span></p>
14 Jan 2026