PURA PUSEH DESA ADAT BON
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260114111024-evOsQ.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana dalam memuja Tuhan atau dewa-dewinya. Arica berbeda dengan patung pada umumnya, yang merupakan hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh karena itu, membuat arca tidaklah sesederhana membuat patung. Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti atau murthi, yang merujuk kepada citra yang menggambarkan roh atau jiwa ketuhanan (murta). Berarti “penubuhan”, murti adalah perwujudan aspek ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan. Menurut kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai focus pemujaan kepada Tuhan setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan persembahan atau sesaji. Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut atau proporsinya harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan. Masyarakat Bali mengenal arca dengan istilah pratima yang berarti simbol perwujudan dewa, pembuatan arca dewa-dewa Hindu maupun budha biasanya harus mengikuti ketentuan yang dimat dalam kitab-kitab agama. Arca tidak boleh dibuat oleh orang sembarangan melainkan harus dilakukan oleh seniman pahat yang professional karena dalam pembuatan arca diperlukan diperlukan syarat khusus.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260114111059-N44cr.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Arca Nandi dipahatkan sedang dalam posisi tengkurap. Postur tubuhnya gemuk, kedua kaki belakang ditekuk ke depan, kedua kaki depan dilipat ke belakang. Di dalam konsep keyakinan Hindu, binatang lembu (nandi) diyakini sebagai binatang suci, dan dalam konteksnya dengan kedewataan binatang lembu adalah sebagai wahana dari Dewa Siwa</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/3-20260114111120-Y77z6.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Arca perwujudan dipahatkan berdiri di atas lapik bermotif tanpa hiasan, bagian belakang memakai sandaran (stela). Kondisi utuh, kotor oleh debu dan mikroorganisme. Kepala memakai mahkota jenis kiritamakuta, memakai simping. Bentuk muka oval, mata terbuka, leher sedang mamakai kalung (hara). Telinga lebar memakai anting-anting model kuncup bunga (karna puspa).</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Postur tubuh tambun, dada datar, perut kemps, tangan kanan dan kiri ditekuk ke depan sejajar dengan pinggang memegang 2 kuncup, memakai gelang lengan (keyura) polah hias segi tiga motif emas-emasan, dan gelang tangan (kankana) pola bersusun polos. Di bagian dada memakai badong berbentuk segi tiga dengan pahatan ukiran sulur daun menutup bidang dada. Memakai kain sebatas bawah lutut, dan beruncal sampai menyentuh lapik disela-sela keduan jari kaki. pola hias kain dengan pola kotak-kotak kecil.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></b></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Arca-arca yang ditemukan di Pura Puseh Desa Adat Bon menurut keterangan Prajuru Desa, pada awalnya tergeletak di atas tanah. Beberapa arca bahkan tertanam hingga setengah badan. BPK XV kemudian melakukan penelitian di Pura Puseh Desa Adat Bon, dan arca-arca detempatkan pada sebuah Balai Pelindung. Bahkan sempat ditugaskan seorang juru pelihara oleh BPK XV yang berasal dari desa Bon.</span></span></span></span></span></span></p>
14 Jan 2026