PURA PUSEH BENG
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260110113404-nfUxA.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        Pura Puseh Beng terletak di Banjar Beng, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. </span></span></span><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Pura ini berjarak ± 21 km dari Pusat pemerintahan Kabupaten Badung. Situs ini sangat mudah dicapai dengan berbagai kendaraan umum. Struktur halaman Pura terbagi atas tiga bagian (<i>tri mandala</i>) seperti halaman pura pada umumnya yaitu halaman luar (<i>jaba</i>), halaman tengah (<i>jaba tengah</i>), halaman   dalam/utama (<i>jeroan</i>).  dengan arah hadap barat. Bangunan utama terletak pada halaman dalam/utama sebagai halaman yang paling suci, sedangkan bangunan lainnya yang merupakan bangunan pelengkap terletak pada kedua halaman lainnya. Batas dari masing-masing halaman pura ialah tembok keliling terbuat dari batu bata dan sebagian terbuat dari batu lahar. Pada halaman luar pura terdapat 3 buah bangunan, halaman tengah 5 buah bangunan dan pada halaman utama terdapat 21 buah bangunan. Memasuki halaman tengah pura melewati sebuah candi bentar, dari halaman tengah menuju halaman utama pura melewati sebuah candi bentar dan 2 buah pintu peletasan. Bangunan pelinggih pada pura ini hamper semuanya sudah diperbaiki dan bahan aslinya sudah diganti dengan yang baru berupa bermaterial batu lahar.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/3-20260110113448-mbdXT.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260110113502-8voDG.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><em><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">KAPAK GENGGAM</span></span></span></span></span></span></strong></em></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        Pada masa neolitikum atau bercocok tanam kapak perunggu digunakan sebagai sarana untuk mengawali pekerjaan bercocok tanam, dan setelah tiba waktunya panen kapak ini digunakan untuk mengawali kegiatan memanen tanaman. Tradisi seperti ini masih berlangsung dikalangan suku Baduy Dalam di Provinsi Banten. Namun dalam konteks dengan masyarakat di Bali, perkakas yang berupa kapak perunggu pada awalnya difungsikan sebagai alat membantu aktivitas perladangan, tapi setelah mengapami proses panjang dan ditinggalkan oleh para memiliknya, kemudian perkakas ini tidak lagi berfungsi praktis melainkan berfungsi religious magis. Dengan kata lain alat-alat seperti ini oleh masyarakat di Bali sangat disaksralkan seperti halnya di pura ini. Benda-benda perunggu yang ditemukan di pura ini jumlahnya cukup banyak. Benda-benda itu umumnya berbentuk keris dan mata tombak. Keris yang ditemukan di pura ini hanya satu buah sedangkan mata tombak  terdapat lima buah dengan berbagai bentuk dan ukuran. Berbicara tentang mata tombak yang terbuat dari bahan perunggu atau besi, mengngatkan kita kepada tradisi masyarakat Bali pada akhir masa prasejarah. Pada saat ini tokoh-tokoh masyarakat yang meninggal dikubur dengan wadah sarkofagus yang banyak ditemukan di seluruh Bali. Dari dalam wadah itu selain jazad si mati juga ditemukan berbagai benda yang dimiliki oleh si mati disertakan dalam penguburannya. Benda-benda itu bermacam-macam jenis dan bentuknya, salah satunya adalah tombak yang biasa digunakan dalam kegiatan berburu. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        Oleh karena itu dapat dikatakan bahwwa artefak tombak sebenarnya merupakan alat yang sudah lazim digunakan pada akhir masa prasejarah di Bali dan berlanjut pada masa berikutnya. Kapak perunggu yang jumlahnya dua buah, merupakasan perkakas yang lazin digunakan oleh masyarakat bercocok tanam di masa akhir prasejarah. Keberadaannya untuk membantu manusia dalam menebang pohon untuk digunakan sebagai bahan kebutuhan hidupnya. Kemudian batu monolit, jelas merupakan tradisi yang berkembang  pada masa akhir prasejarah dan berlanjut pada berikutnya bahkan hingga kini. Kemudian berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat didaerah-daerah pegunungan di Bali ataupun ditempat lainnya sering dinyatakan sebagai tradisi megalitik yang berlanjut. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="margin-left:.25in; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        </span></span></span><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Kata pura berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari akar kata pur yang berarti kota atau benteng yaitu suatu tempat yang dibuat secara khusus dengan dipagari tembok untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Kemudian berkembang menjadi Istana atau kerajaan seperti Kerajaan Hastina Pura, Alengka Pura, Ayodya Pura, dan lain sebagainya. Di Bali, Pura berfungsi sebagai pemujaan terhadap Sang Pencipta dengan segala manifestasi (prabhawa)-Nya. Pura adalah tempat suci umat Hindu untuk mewujudkan bhaktinya kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Istilah Pura lahir dari proses sejarah yang sangat panjang. Pada  zaman Bali Kuno disebut Ulon yang berarti tempat suci untuk berhubungan dengan Tuhan. Hal ini dimuat dalam Prasasti Sukawana AI ( th 882 M ). Dalam Prasasti Kehen tempat suci disebut Hyang. Menurut lontar Usana Dewa Mpu Kuturan-lah yang mengajarkan umat Hindu di Bali membuat tempat suci dan mengembangkan cara-cara/teknik membuat tempat pemujaan yang disebut Kahyangan. Kedatangan Mpu Kuturan ke Bali dari Jawa Timur pada waktu pemerintahan raja Udayana banyak membawa perubahan-perubahan tata keagamaan, seperti : </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <ol style="list-style-type:lower-alpha"> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Mengajarkan membuat sad Kahyangan Jagat.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Catur Loka Pala.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Kahyangan Rwa Bhineda.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt 70.9pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Mengembangkan/membesarkan Pura Besakih.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Mengembangkan bangunan pelinggih seperti Meru, gedong, dan pelinggih lainnya.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Mengajarkan pendirian Tri Kahyangan di tiap-tiap desa di Bali.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Menata desa-desa di Bali yang disebut Desa Pakraman.</span></span></span></span></span></span></span></li> <li style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:list .5in left 56.7pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Mengajarkan pendirian Rong tiga di tiap-tiap rumah.</span></span></span></span></span></span></span></li> </ol> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        </span></span></span><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Sesuai dengan lontar Dewa Tattwa, Mpu Kuturan mengajarkan pembuatan sarana dan prasarana secara spiritual seperti jenis-jenis upacara, jenis-jenis pedagingan, pelinggih dan sebagainya. Sebelum dinasti raja-raja Bali/Dalem, istana raja disebut dengan Kedaton/Keraton. Hal ini disebabkan menurut kitab Negara Kertagama 73.3 menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit diperlakukan pula di Bali oleh dinasti Dalem. Setelah zaman Dalem maka istana disebut dengan Pura. Setelah Dalem berkeraton di Klungkung atau Semara Pura istilah Pura dipakai untuk menyebutkan tempat suci pemujaan. Sedangkan istana raja tidak lagi disebut Pura tetapi disebut “Puri”. Demikian istilah Pura menjadi istilah yang baku sampai sekarang untuk menyebutkan tempat suci atau tempat pemujaan umat Hindu di Indonesia. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        </span></span></span><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">Pada zaman ”Dalem Waturenggong” Bali mencapai puncak kejayaannya pada abad ke – 16 dengan penasehat spiritualnya yaitu Brahmana Siwa Dang Hyang Nirartha juga dikenal dengan sebutan Pedanda Shakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Dwijendra. Kedatangan Dang Hyang Nirartha ke Bali dari “Daha” (Jawa Timur) membawa pengaruh sangat besar di Bali dibidang spiritual Hindu, yakni : </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">1. Mengembangkan apa yang sudah ada (dari pengaruh Mpu Kuturan) dan menyempurnakannya, terutama di bidang Upacara dan upakara.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:49.65pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">2. Menciptakan hubungan manusia dengan Tuhan secara Vertikal dengan simbol pelinggih Padmasana.</span></span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:35.45pt 49.65pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">3. Sebagai seorang Pujangga yang banyak melahirkan Kesusastraan Bali.</span></span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">4. Membentengi pulau Bali dengan kekuatan spiritual dengan mendirikan Pura-pura Segara, </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">5. Beliau juga menciptakan spiritual hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan roh leluhurnya, dan manusia dengan roh rajanya. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:115%"><span style="tab-stops:35.45pt 42.55pt"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">6. Sehingga fungsi Pura identik dengan fungsi Candi di Jawa yaitu sebagai tempat pemujaan Tuhan dengan segala manifestasinya (Dewa Pratista).</span></span></span></span></span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 0.0001pt"> </p>
10 Jan 2026