PURA LUWUR ULUWATU
<p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/header-pura-uluwatu-20260108094644-SpyPd.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">DOCUMEN TAHUN 2025</p> <p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/candi-kurung-20260108123526-T6grN.jpg" weigth="100px" /></p> <p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/candi-bentar-20260108123542-KaURp.jpg" weigth="100px" /></p> <p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260108123606-Zaqdl.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">          Secara etimologi kata Luwur Uluwatu berasal dari kata Ulu berarti ujung, atas, atau puncak, sedang watu berarti batu. Pura Luwur Uluwatu dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya sebagai pura untuk memuja Tuhan dalam wujud Batara Siwa Rudra. Kedudukan Pura Luwur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih yang berfungsi sebagai pura sad kahyangan. Pura ini dibangun di atas sebuah bukit kecil, sehingga untuk sampai ke kahyangan pemedek/pengunjung harus menaiki 65 anak tangga. Sebagai kahyangan jagat ditata mengikuti konsep tri mandala yatu nista mandala (halaman luar), madya mandala (halaman tengah), dan utama mandala (halaman utama). Masing-masing halaman tersebut dibatasi tembok keliling (penyengker) yang menggunakan batu padas lokal. Pada masing-masing halaman terdapat bangunan palinggih maupun bangunan lainnya. Pada jabe sisi (nistha mandala) terdapat beberapa bangunan yaitu bale kulkul, bale astha resi,  bale gede dan dapur suci. Pada madhya mandala (jabe tengah) terdapat bangunan bale gong. Sementara di utama mandhala (jeroan) terdapat beberapa bangunan palinggih yaitu meru tumpang tiga sebagai stana Bhatara Rudra dan pemuliaan Dang Hyang Nirartha, dua buah bale tajuk sebagai stana/tempat pemujaan batara Rambut Sedana dan batara Agung Sakti, bale piasan dan dibelakang bale ini terdapat tepas sebagai palinggih arca stana/tempat pemujaan Batara Ratu Bagus (Gerya dkk,2012). Dengan semakin banyaknya pemedek yang tangkil saat upacara piodalan, maka oleh pihak desa adat dan pemerintah daerah disepakati untuk menyiapkan panyawangan pura Luwur Uluwatu yang ada di didepan nistha mandala. Jadi apabila pemedek tidak tertampung di utama mandala, maka dapat melakukan persembahyangan di penyawangan ini. Untuk masuk kehalaman tengah maupun jeroan pura, terdapat candi bentar dan candi kurung/paduraksa. Candi bentar menghubungkan antara Jabe sisi dengan Jabe tengah. Sementara untuk memasuki halaman utama/jeroan terdapat candi kurung/paduraksa. Disebelah utara jabe sisi terdapat pura pesimpangan Jurit Luwur Uluwatu, sedangkan Pura Jurit Luwur Uluwatu letaknya disisi sebelah selatan jabaan. Dipura Jurit terdapat palinggih yakni candi diatas altar/tepas (gedong arca) Dalam gedong ini terdapat arca perwujudan sebagai perwujudan Dang Hyang Nirartha. Juga terdapat gedong sari (merutumpang dua) sebagai linggih Ratu Bagus Jurit, 2 buah bale tajuk sebagai pengaruman, bale tajuk pemangku, palung batu oleh masyarakat disebut perahu yang dipakai Dang Hyang Niratha menuju Bali dan tiga buah arca perwujudan yang dianggap sebagai arca perwujudan Batara Tri Murti.</span></span></span></span></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"> </p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span arial="" style="font-family:">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian)</span></b></span></span></span></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">          Pura Luwur Uluwatu didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Sebagai pura yang didirikan dengan konsepsi Sad Winayaka, Pura Luhur Luwur Uluwatu merupakan salah satu dari Pura Sad Kahyangan untuk melestarikan Sad Kertih (Atma Kerti, Samudra Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti). Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luwur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaannya. Pura Luwur Uluwatu juga memiliki beberapa Pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Semua Pura Prasanak tersebut berada di sekitar wilayah Pura Luwur Uluwatu di Desa Pecatu. Umumnya Pura Kahyangan Jagat memiliki Pura Prasanak. Pura Prasanak ini merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Luhur Luwur Uluwatu. Pura Prasanak tersebut berada dalam radius sekitar lima kilometer Pura Luwur Uluwatu. Karena itu dalam radius lima kilometer tersebut hendaknya jangan ada bangunan atau fasilitas yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan Pura Luwur Uluwatu beserta dengan Pura Prasanak-nya. Dapat saja beberapa hal diadakan dalam radius kesucian pura tersebut sepanjang keberadaan bangunan tersebut dalam rangka memperkuat eksistensi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filosofi Pura Luwur Uluwatu</span><span arial="" lang="IN" style="font-family:">.</span></span></span></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">          Dalam Lontar Usana Bali disebutkan bahwa Mpu Kuturan atau Mpu Rajakreta banyak mendirikan Pura di Bali antara lain Pura Luwur Uluwatu. Adapun Mpu Kuturan dipandang identik dengan Senapati Kuturan yaitu tokoh sejarah yang hidup pasa masa pemerintahan Raja Udayana, Marakata dan anak wungsu pada abad ke-11. Beliau merupakan salah seorang yang duduk di dalam lembaga “Pakira-kiran i jro Makabehan” (sejenis lembaga nyang memberikan nasehat pada raja). Berdasarkan lontar tersebut, maka pembangunan Pura Luwur Uluwatu diawali oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Hal tersebut didasarkan atas tinggalan kuno di pura ini berupa candi kurung atau gelung kori agung yang menjulang megah membatasi areal jaba tengah dengan jeroan pura, diprediksi pura ini sudah ada sejak awal abad ke-11. </span></span></span></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">          Pura Luwur Uluwatu ini diperkirakan dibangun oleh beliau Mpu Kuturan pada masa pemerintahan raja yang bergelar Sri Haji Marakata, yang memerintah mulai tahun 944 saka/1032 M. Pada masa pemerintahan raja Dalem Waturenggong 1460-1550 M. Dang Hyang Nirartha sebagai bhagawanta Kerajaan Bali mencapai moksa di Luwur Uluwatu. Pada masa pemerintahan Kerajaan Badung 1662-1906 pura ini dijadikan tempat pemuliaan roh suci Dang Hyang Nirartha. Pura ini adalah tempat pemujaan Bhatara Siwa Rudra. Menurut beberapa purana, Pura Luwur Uluwatu ini merupakan salah satu pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan yang ada di wilayah pulau Bali, oleh karena ini sudah sepatutnya disungsung oleh seluruh umat terutama yang beragam Hindu.  </span></span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 8pt"> </p>
08 Jan 2026