PURA LUWUR GUNUNG KUKUS GWA GONG
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/header-2-20251212122641-Rjv1H.jpg" weigth="100px" /></p> <p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/foto-1-20251212123314-Iq6ng.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">     </span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong Merupakan sebuah pura yang berada di dalam Goa, terletak pada lereng bukit kapur yang terjal. Mulut Goa menghadap ke utara. Rembesan air di Goa ini cukup deras, tangkapan air hujan pada atap Goa mengalir dan merembes melalui celah-celah batu karang. Saat ini Goa Gong merupakan tempat suci umat Hindu untuk melakukan ritual keagamaan. Sebagai tempat suci bagi umat Hindu, pura ini berbeda dengan pura-pura umumnya di Bali. Perbedaannya adalah penataan yang ada yaitu bagian jeroan (halaman utama/Utama mandala) terdapat di dalam Goa, sementara halaman luar (nista mandala) terletak di luar mulut goa. Pada utama mandala yang merupakan rongga yang cukup luas dengan kontur/lantai yang tidak sama, maka kemudian dilakukan penataan, ada yang lebih tinggi tempatnya tapi ada pula yang lebih rendah. Dalam utama mandala terdapat palinggih Geriya Dang Hyang Nirartha, palinggih Ida Batara Siwa Budha, palinggih Ida Batara Guru, dan palinggih gong.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Sementara di jabe sisi hanya terdapat sebuah bale pesandekan bagi pemedek. Upacara persembahyangan khusus atau yang lebih dikenal Piodalan di pura ini jatuh pada hari Soma Ribek (Senin), atau dua hari setelah hari raya Saraswati (jatuhnya setiap 210 hari). Pada setiap hari Buda (Rabu), seluruh masyarakat pengemong dan penyiwi tidak diperkenankan untuk melakukan persembahyangan di pura ini. Larangan ini sangat diyakini oleh seluruh pangemong untuk menjaga kesucian pura tersebut, bahkan sekalipun ada hari-hari persembahyangan (rahinan) yang jatuhnya tepat pada hari itu. Sebenarnya bukan melarang, tetapi lebih tepatnya menghormati sejarahnya Maha Rsi Dang Hyang Niratha yang kebetulan pada saat beliau beryoga di tempat ini jatuhnya pada hari rabu (buda), oleh sebab itu tidak diperkenankan untuk melakukan persembahyangan bagi pengemong dan penyiwinya. Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong banyak dimanfaatkan untuk melakukan permohonan seperti; memohon penyucian diri (samadi), memohon berkah kehidupan (arta brana), memohon obat bagi yang sakit serta mohon keselamatan.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"> </p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian)</span></span></span></span></strong></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Peninggalan goa ini dimanfaatkan oleh para resi sebagai tempat suci yaitu terakhir pada zaman masa keberadaan Maha Resi Dang Hyang Nirartha atau yang sering disebut Pedanda Sakti Wawu Rauh. Setelah meninggalkan desa Kerobokan menuju ke bukit selatan dengan jalan menyusuri pantai. Dari jauh tampak oleh beliau suatu tanjung yang menonjol ke laut bagian wilayah bukit Badung, maka tanjung itulah yang beliau tuju. Setibanya di sana maka diperhatikan oleh beliau bahwa tanjung itu terjadi dari batu karang seluruhnya dan sangat besar. Akhirnya beliau mengambil keputusan membuat kahyangan di tempat itu. Untuk kepentingan itu terpaksa beliau membuat asrama di sebelahnya untuk menetap sementara mengerjakan kahyangan itu. Setelah beberapa lama maka kahyangan itu selesai diberi nama Pura Uluwatu. Di dekat asrama Mpu Dang Hyang Nirartha lama kelamaan didirikan juga sebuah kahyangan yang dinamai Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Goa ini terdiri dari tiga rungan besar, ruangan yang paling besar (area utama) dimana terdapat stalagtit yang apabila di pukul akan mengeluarkan suara menyerupai gong dan menjadi asal usul nama Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong ini. Selain stalagtit ini belakangan ditambahkan juga beberapa pelinggih termasuk padmasana, dan beberapa pelinggih lainnya. Pada ruangan kedua di sebut griya oleh pemangku, di dalamnya terdapat pelinggih padma tiga dan satu ruangan di mulut Goa sebagai pintu keluar masuk ke pura ini.  </span></span></span></span></p> <p> </p>
12 Dec 2025