PURA KEREBAN LANGIT
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/5-20260109214428-kSk6M.jpg" weigth="100px" /> </p> <p>DOCUMEN TAHUN 2025</p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Pura Kereban Langit terletak di Banjar Pekandelan, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Badung. Pura ini terletak di tepi sungai, kurang lebih 1 km dari jalan utama, Jalan Raya Sading.</span></span> <span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Pura ini diempon oleh 4 KK dari keluarga Jero Mangku, dan hari <i>petoyan </i>dari pura ini jatuh pada hari Buda Cemeng Ukir. Lokasi pura ini mudah dicapai karena jalan yang sudah diaspal dan bisa dilalui hingga kendaraan roda empat. Untuk menuju pura, harus menuruni sejumlah anak tangga. Menurut Jero Mangku Wayan Sweden (65 tahun), nama ‘kereban langit’ berarti beratapkan langit. Sesuai dengan namanya, di sisi timur pura ini terdapat goa yang bagian atasnya berlubang hingga dapat melihat langit. Mulut goa memiliki ketinggian 2,6 meter dan lebar di dalam goa 9 meter. Lingkungan di sekitar pura masih sangat alami, karena letaknya di tepi sungai yang curam sehingga jarang terjamah aktivitas manusia. Tanaman yang terdapat di sekitar lokasi yaitu bambu, kelapa, pakis dan beringin. Di sisi utara pura merupakan tebing dengan rembesan air dan ditumbuhi pakis liar. </span></span></span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/4-20260109214457-vjsd4.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/3-20260109214512-u9MiE.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260109214524-vUb9D.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Dalam sejarahnya, berdasarkan informasi dari Jero Mangku, goa ini telah ada sejak zaman pemerintahan Raja Bali Kuna yaitu Sri Dharma Udayana. Jadi dapat diperkirakan goa tempat pura tersebut sudah ada pada abad ke-11. Hal ini dijelaskan seperti yang termuat di dalam (<i>Prasasti Sading</i></span></span><i> </i><i><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">yang ada di Pura Puseh Sading</span></span></i><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">)</span></span> <span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">yang berangka tahun I</span></span> <span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">saka 923 (1001 Masehi), di mana nama goa ini sudah disebutkan. Hanya saja, saat itu yang merupakan masa pemerintahan Raja Sri Dharma Udayana, Desa Sading masih bernama Desa Bantiran (wawancara dengan A.A. Gde Agung di Desa Sading).  Baru pada tahun 1076 Masehi, Desa Bantiran berubah nama menjadi Desa Sading. Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, keberadaan Goa Kereban Langit juga muncul pada masa sebelum lahirnya raja kembar Sri Masula-Sri Masuli. Disebut bahwa ayahnya memohon kehadapan Ida Bhatara di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) agar permaisurinya segera dapat mempunyai anak. <i>Ida Bhatara</i> di Gunung Tohlangkir memberi petunjuk agar sang raja mencari <i>Tirtha Selaka</i>, sehingga barulah keinginannnya dapat tercapai. Oleh karena itu, diutuslah seorang brahmana menelusuri seluruh jagat Bali untuk mencari <i>Tirtha Selaka</i> tersebut. Saat sampai di Desa Sading, sang brahmana berhenti dekat Goa Kereban Langit. Di dalam goa terdapatlah seorang pertapa. Sang Brahmana kemudian menemuinya dan menjelaskan maksudnya untuk mencari <i>Tirtha Selaka.</i> Sang pertapa kemudian menunjukkan sebuah mata air yang terdapat di dalam goa dan tak dinyana air itulah yang disebut dengan <i>Tirtha Selaka</i>. Air suci itupun kemudian dihaturkan kepada permaisuri raja. Memang benar, sang permaisuri kemudian akhirnya bisa melahirkan. Anak yang dilahirkan kembar buncing yang kemudian diberi nama Sri Masula-Sri Masuli (</span></span><a href="http://www.facebook.com/note.php" style="color:#0563c1; text-decoration:underline"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">www.facebook.com/note.php</span></span></a><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">).  </span></span></span></span></span></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"> </p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Pada jaman kekuasaan kerajaan Mengwi dulu, pengawasan Pura Kereban Langit berada di tangan Puri Mengwi. Ketika terjadi pengembangan keluarga raja ke Sading, pengawasan dilimpahkan ke Puri Sading. Hingga kini jika pujawali di Pura Kereban Langit, keluarga Puri Mengwi dan Puri Sading selalu hadir karena status pura ini sebagai pura <i>elingan puri</i>. Meskipun hanya diemong 4 kepala keluarga, Pura Kereban Langit kerap didatangi <i>pemedek</i> yang hendak tangkil. Tidak saja saat pujawali, juga hari-hari biasa. Ada yang datang karena mendapat pewisik dan sejenisnya. Yang paling ramai saat Hari Raya Saraswati, Siwaratri atau Rahinan Purnama untuk melukat dan sembahyang.</span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"> </p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span bookman="" old="" style="">        Pura Kereban Langit sudah pernah mendapat penanganan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali pada tahun 1976 ketika kepala instansi tersebut Soekarto K. Atmodjo dan selanjutnya penanganan dilakukan oleh pengemong. </span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"> </p>
09 Jan 2026