PURA GOA BATU PAGEH
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260112103004-y63Z3.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Secara geografis </span></span></span><span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Pura Goa Batu Pageh</span></span></span> <span lang="EN-GB" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">terletak di </span></span></span><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">pesisir pantai bagian selatan Pulau Bali dengan kondisi kontur lahan berupa sebidang tebing dengan material batu karang. Topografis lokasi ini adalah dengan kontur terjal dan berada pada bidang dinding tebing menghadap ke laut selatan.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260112103025-FU7gu.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><strong>Goa</strong></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Bibir goa terpampang menghadap ke arah laut lepas Samudra Indonesia. Material  goa berbahan batu karang/batu kapur. Material ini merupakan material khas lahan pesisir pantai selatan Pulau Bali. Bibir goa berada pada keinggian sekitar 150 meter dari atas permukaan air laut. Jalan masuk menuju Gua melalui sisi timur Pura Taman yang ada di atas dengan menuruni beberapa anak tangga yang terbuat dari PC dalam bentuk zigzag mengikuti kelerengan tebing. Dengan perjalanan kurang lebih 30 menit, lalu tiba pada sebuah pelataran yang tidak terlalu luasx di bawah Gua. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Pada pelataran yang sudah diberikan PC yang dirabat berdiri sebuah bangunan Bale Pesandekan berbentuk persegi panjang. Di timur Bale Pesandekan ini terdapat sebuah palinggih yang terbuat dari PC yang difungsikan sebagai pesimpangan. Dari pelataran ini, pemedek akan menaiki anak tangga yang terbuat dari PC dengan beberapa anak tangga untuk sampai pada goa dimaksud dengan ketinggian kurang lebih 15 meterMulut goa menghadap ke laut Samudra Indonesia. Goa dengan ukuran yang cukup luas, memiliki tiga ruang, satu ruang utamadan dua ruang lainnya lebih kecil dan berada lebih tinggi. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Untuk dapat masuk kedua ruang lainnya pemedek harus menunduk karena pintunya yang sempit dan gelap sehingga diperlukan penerangan. Ruang bagian sisi kiri berbelok ke utara membentuk ruang yang lebar dan setengah melingkar, sedangkan bagian sisi kanan terbentuk 2 buah ceruk dalam ukuran lebih kecil menjorok ke dalam. Bagian plafon atas material plafon membentuk tonjolan-tonjolan berbentuk stalagnite/stalagtit. Tepat menghadap pintu masuk goa berdiri kokoh sebuah stalagtit dalam ukuran besar menyerupai sebuah lingga, masyarakat lokal memberi sebutan linggacala. Secara fisik linggacala dengan ukuran tinggi 3,70 m; lebar 2,30 m; dan tebal 1,20 m. Pada ruang bagian sisi barat terdapat sumber air yang diduga berasal dari tirisan/resapan air tanah yang berasal dari bidang permukaan lahan di atasnya. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Menurut keyakinan warga penyungsungnya, di dalam konteks ritual keagamaan masing-masing ceruk memiliki fungsi yang berbeda-beda. Pada ceruk pertama dengan sebutan Telaga Waja terdapat sumber air,  diyakini sebagai air suci (tirta) berfungsi sebagai media untuk memohon penyucian jasmani dan rohani (melukat). Ceruk kedua, diyakini sebagai tempat untuk menyimpan peralatan milik Ida Bhatara yang dipuja di tempat ini. Ceruk yang ketiga diyakini berfungsi sebagai tempat peristrirahatan (pemereman) Ida Bhatara. Menurut cerita pengemongnya, di dalam ceruk yang kedua tersimpan beberapa peralatan untuk aktivitas pertanian, berupa alat-alat yang terbuat dari batu dan logam. Ditinjau dari aspek pemberian nama, fungsi, dan konteks kekiniannya masyarakat lokal (penyungsung)  memberikan nama atau sebutan Pura Batu Pageh. Pemberian sebutan tersebut diduga berdasarkan atau diambil dari salah satu ikon yang terdapat di dalam pura yakni sebuah batu dengan material batuan karst yang berdiri kokoh di dalam goa. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Sebuah batuan karst  tersebut memvisualisasikan sebuah lingga dalam ukuran yang besar. Masyarakat lokal menyebut Lingga Acala, artinya sebuah lingga yang berdiri kokoh. Dari segi fungsi dan konteks kekiniannya, goa tersebut kini digunakan sebagai tempat suci keagamaan, dengan upacaranya diselenggarakan setiap 6 bulan sekali yakni pada hari Sugian Bali 4 hari sebelum Hari Raya Galungan, dan disungsung/diempon oleh Banjar Mekarsari dengan jumlah 65 Kepala Keluarga (KK).</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></b></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Sejarah Pura Taman Goa Batu Pageh dan Pura  Dalem Goa Batu Pageh tak lepas dari perjalanan Dhang Hyang Nirarta.  Pura Taman Sari Batu Pageh  dahulu dikatakan sebagai tempat pasraman bagi Dhang Hyang Nirarta. Sedangkan Pura Dalem Goa Batu Pageh sebagai tempat persemedian dan tapa bratanya Dhang Hyang Nirarta. “Bukti nyatanya yaitu adanya beberapa pratima dan sebuah batu besar yang ada di dalam goa. Itu sebagai tempat pertapaan Dhang Hyang Nirartha dulu,” kata Mangku Pura Taman Sari Goa Batu Pageh, Jero Mangku Wayan Karbin. Ia menerangkan, sesungguhnya kedua pura ini merupakan pura Kahyangan Jagat, seperti halnya Pura Goa Lawah dan pura besar lainnya. Hanya saja, karena dulu  tidak didaftarkan sebagai pura Kahyangan Jagat, jadi saat ini  pura Taman dan Pura Dalem Batu Pageh hanya diempon oleh satu keluarga besar dan masyarakat sekitar.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Perjalanan menuruni anak tangga yang curam memang dirasa agak sulit, belum lagi kita harus berhati - hati dengan monyet yang berkeliaran mencari makan di kawasan itu. Setelah melewati beberapa anak tangga, akan terlihat dua buah palinggih di sisi  kiri. Di palinggih ini, kita diwajibkan menghaturkan canang atau sekedar rarapan sebagai  tanda kita memohon izin berkunjung. Jika terus berjalan mengikuti anak tangga, kita akan melihat tebing curam yang menjulang ke atas. Di sana terlihat sebuah goa yang  ramai dipenuhi para pamedek. Di dinding atas goa, terlihat banyak kelelawar yang menjuntai dan bergerombol di sejumlah sudut. Pura Dalem Goa Batu Pageh merupakan salah satu pura yang juga nyungsung Ida Ratu Gede Mas Macaling Dalem Nusa. Di pura ini, Ida Ratu Gede Mas Macaling distanakan sebagai patih dari Ida Bhatara Begawan Panglingsir.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Ditemukannya tiga arca sebagai pratima inti di Pura Dalem Goa Batu Pageh, menjelaskan asal usul pura tersebut. Adapun pretima yang masih disimpan adalah  pretima Panglingsir yang berbentuk kotak dengan ukiran khusus, pretima Pemayun Kembar yang berbentuk patung macan kembar sepasang, dan pretima Ratu Gede yang  berbentuk tapel kotak yang menyerupai topeng.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Dijelaskan dalam purana Pura Goa Watu Pageh, kisah perjalanan Danghyang Dwijendra sangat erat dengan keberadaan pura-pura yang ada di  Bali.  Dikisahkan  setelah  beberapa lama Danghyang Dwijendra mohon diri kepada Sri Waturenggong, untuk tirthayatra mengelilingi Bali, tiada terceritrakan dalam perjalanan, datanglah beliau di pinggir Bali bagian barat, mengarah ke barat daya perjalanan beliau, mengikuti tepi pantai, sekembali dari Jembrana, bertemu dengan seseorang di pinggir laut. Orang tersebut menyapanya :”Ya tuanku pendeta utama, kemanakah perjalanan tuanku, janganlah tergesa-gesa, lebih baik tuanku mampir dan istirahat sebentar, hamba akan memberi suguhan, di sini ada tempat suci penyungsungan hamba, amat luar biasa saktinya, adapun jika ada orang yang lewat di tempat ini, jika tidak menyembah di Kahyangan ini pasti akan disergap oleh harimau, marilah tuanku datang untuk melakukan sembah di Kahyangan hamba, maka akan selamat perjalanan tuanku”. Danghyang Dwijendra menjawabnya :”Jika demikian kehendak paman, silahkan antarkan saya, agar sampai di Kahyangan paman”.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Lalu diantarlah sang pendeta, sesampainya di tempat itu, lalu duduk dan memusatkan pikiran, pranayama, mengatur nafas, setelah yoganya sempurna, rebah dan hancurlah gedong Kahyangan itu bersih bagaikan disapu, dilihat oleh sang empunya, lalu menangis dan mohon maaf atas kesalahannya. Lalu memohon :” Ya tuanku sang Mahamuni, hendaknya tuanku sudi kiranya memaafkan hamba dan kembalikanlah Kahyangan kami seperti sediakala, agar supaya ada yang hamba sembah. Sang pendeta berkata, ”Jika demikian kehendakmu, saya akan memberi anugrah padamu, lalu beliau memusatkan pikiran, segera berdiri seperti semula, lalu sang pendeta menyerahkan rambutnya untuk dipuja di tempat itu serta menegaskan ini rambutku puja di sini”.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Ketika itu amat bahagia hatinya, mohon maaf dan menyembah, lalu Kahyangan itu dipakai tempat pemujaan, diberi nama Rambutsiwi, sampai saat ini. Diceritrakan Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan, dengan segera meninggalkan Kahyang tersebut, dan ada orang-orang yang mengiringinya. Adapun beliau Danghyang Dwijendra berjalan mengikuti tepi pantai dengan perasaan parama suka, indah menawan segala yang dilewati, di tengah laut bagaikan gunung yang kokoh, suci tak terhingga, lalu ada keinginan beliau untuk mendirikan Parhyangan di tempat itu di laut ada orang-orang yang menjala ikan, orang-orang itu dipanggilnya agar orang-orang sekitarnya untuk membuat Parhyangan di atas tebing laut yang suci, Parhyangan itu diberi nama Pura Pakendungan, tempatnya di tengah laut, di wilayah Tabanan.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Tersebutlah Danghyang Dwijendra, melanjutkan perjalan ke arah tenggara, lalu beliau ke arah barat daya, ada tebing yang menonjol ke laut di Bukit Badung tempatnya, lalu beliau menuju tempat itu dengan mengikuti tepi pantai, tiada berapa lama sampai beliau di sana, lalu beliau melihat disekeliling tempat itu, ke utara, ke barat, ke selatan, ke timur, beliau melakukan yoga di sana, lalu beliau membuat Parhyangan, tiada lama setelah selesai dan diupakarai, Parhyangan itu diberi nama Uluwatu, tidak jauh dari tempat itu beliau mendirikan pasraman, disebut Pura Bukit Gong.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Adapun setelah itu beliau melanjutkan perjalanan, ke arah timur, tiada diceritrakan dalam perjalanan sampailah beliau di Goa Watu Pageh, di tempat itu beliau mendirikan Parhyangan, disebut Pura Guha Watu Pageh, sampai saat ini. Dari tempat ini beliau menuju Bwalu, di tepi pantai, di arah tenggara Bwalu, ada tebing yang menonjol ke laut, di tempat itu beliau istirahat, dengan menancapkan payungnya, seketika keluar air dari tempat menancapkan payung itu, air itu dipakai untuk penyucian, dipeliharalah air suci itu oleh orang-orang di sana, sebagai tempat sumber kehidupan, lalu diberi nama Pura Bukit Payung, sampai saat ini.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Setelah beliau meninggalkan tempat itu dan menuju arah utara, tiada jauh dari tempat itu tersebut ada Giliwatu (Pulau Batu), di tengah-tengahnya ada pulau kecil, disebut Nusa Duwaning Loka, di tempat itu beliau istirahat serta mengarang Kekawin, yaitu Anyang Nirartha, setelah selesai menggubah karangan, beliau melanjutkan ke arah utara, sampailah beliau di Serangan, di tepi Serangan di arah barat laut, amat senang hati beliau, melihat keindahan alam laut, lalu Danghyang Dwijendra istirahat di tempat itu mendirikan Parhyangan di tengah pulau kecil itu, tiada terbilang kesucian Parhyangan itu diberi nama Pura Sakenan, bertambahlah keindahan samudra karena kesucian pura tersebut, jernih air lautnya, tiada celanya, amat senanglah hati beliau tinggal di sana, banyaklah keindahan kalau diceritrakan.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Marilah ceritrakan kembali, keberadaan Guha Watu Pageh, yang berada di ujung selatan pulau Bali, banyak terdapat pohon rangdu/kapuk, bagaikan rambut orang yang mengurai, indah tiada tandingan, oleh karena itu banyak orang datang untuk mencari kesucian bathin. Dungusing kidul, dungus artinya hidung, puncak atau ungasan; kidul artinya selatan. Guha Watu Pageh ri dungusing kidul pulau Bali artinya Guha Watu Pageh ring Pradesa Ungasan.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Ada ceritra lain tatkala masa pemerintahan Cokorda Pamecutan, pada tahun Saka Netra Asti Rasa Bhumi, Netra = mata = 2; Asti = gajah = 8 ; Rasa  =  sad  rasa  =  6 ;  Bhumi  =  dunia  = 1. Menunjukkan tahun Saka 1682, beliau saat itu ke ujung selatan Bandhana Negara atau wilayah Badung, karena daerah itu wilayah kekuasaan beliau, di sana di tengah hutan, yang diselimuti oleh keindahan pohon kapuk, pada musim sasih Kapat, yang mendatangkan rasa indah menawan, di tempat itu beliau bertapa, beryoga, memusatkan pikiran, beliau mendapatkan anugrah dari Hyang Widhi. Beliau itu adalah raja penguasa di Pamecutan, dan berhasil dalam yoga di Guha Watu Pageh, lalu beliau memberikan anugrah kepada pemimpin wilayah di Pradesa Ungasan, menjaga dan mengatur serta pangempon Pura Guha Watu Pageh, ditetapkan menjadi Pamangku turun-temurun, sampai sepanjang jaman, bersama dengan pemberian Catu/laba, untuk membiayai upacara dan upakara linggih Danghyang Dwijendra dan Dewa-dewa penguasa alam.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Ini adalah Dharmayatra Danghyang Dwijendra, perjalanan suci Danghyang Dwijendra, serta keberadaan Dang Kahyangan yang ada di pulau Bali. Prasasti ini telah diplaspas dan dipasupati, dipakai piagam, serta mengingatkan para keturunan Pamangku Pura Watu Pageh. Untuk melakukan  persembahyangan di kawasan Pura Batu Pageh ini, umat melakukan persembahyangan pertama di Pura Taman, menghaturkan canang raka atau sodaan, kalau ada Pejati. Di sini juga ada pelinggih Ida Bhatara Tualen, berupa dua patung arca, di cangkem (bibir) arca disediakan lubang untuk tempat rokok, karena beliau dipercaya suka merokok, bisa menghaturkan dua batang rokok juga di dua arca tersebut, di sini mohon ijin dan tuntunan untuk bisa melanjutkan perjalanan ke pura selanjutnya. Setelah persembahyangan selesai, maka dilanjutkan perjalanan menuju pura Dalem Batu Pageh.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Perjalanan menapaki anak tangga menuju Pura Batu Pageh sambil menyaksikan keindahan pantai dengan pemandangan laut, perjalanan menuruni anak tangga tersebut hanya sekitar 10 menit, tidak terlalu jauh ataupun melelahkan. Sebelum sampai ke pura Batu Pageh, ada sebuah pelinggih bernama Pura Kepandean di sini bisa menghaturkan canang sari atau canang raka kalau ada bisa Pejati. Yang terakhir adalah Pura Dalem Batu Pageh, lokasi pura berada di tengah-tengah tebing. Pura Batu Pageh sendiri berada di dalam sebuah goa, sudah ada akses tangga beton sekitar 10 meter menuju pura tersebut. </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="EN-ID" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span bookman="" old="" style="">Di dalam goa terdapat sejumlah pelinggih dan salah satunya batu tebing yang berbentuk seperti Lingga Yoni Dewa Siwa, pura Batu Pageh tempat pesiraman Ida Bhatara ini terdapat juga genah melukat (tempat meruwat), jadi sebelum bersembahyang biasanya dilakukan acara melukat terlebih dahulu.</span></span></span></span></span></span></p>
12 Jan 2026