PURA GEDE PUSEH
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260109215653-C8qXA.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        </span></span></span><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Pura Gede Puseh terletak bersebelahan dengan Bale Banjar Puseh, Desa Adat Sading. Secara administratif Pura Gede Puseh berlokasi di Lingkungan Puseh, Kelurahan Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Tepatnya berada pada koordinat 8° 32’ 272’’ Lintang Selatan dan 115° 11’ 559’’ Bujur Timur. Pura ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor melalui jalan raya jurusan Sempidi – Tegal Darmasaba. Pura  Gede Puseh digolongkan sebagai Pura Tri Kahyangan Desa Adat Sading, di<i>empon</i> oleh 13 Banjar Adat Sading. Piodalan di Pura ini jatuh pada hari Paing Galungan atau Sukra Paing Dungulan setiap 210 hari berdasarkan kalender saka.</span></span></span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260109215827-1EQ13.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span sans-serif="" style="font-family:Calibri,"><b><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></b></span></span></span></p> <p class="CxSpFirst" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Pura Gede Puseh terletak di Banjar Puseh, Desa Adat Sading, Badung. Adapun <i>petoyan </i>di pura ini jatuh pada hari Paing Galungan<i> </i>atau Sukra Pahing Dungulan yang diperingati setiap 210 hari berdasarkan kalender Saka. Pura Gede Puseh Sading di<i>empon</i> oleh mayarakat Desa Adat Sading. Status pura ini adalah Pura Tri Kahyangan Desa Adat Sading, Badung.</span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Berdasarkan Prasasti Sading A disebutkan bahwa ada sebuah desa yang sangat makmur dan tentram. Desa itu kemudan di beri nama Desa Bantiran, sebagai mana kutipan berikut:</span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        </span></span><i><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">“Ajarakna ri hawanirang Sri Jayasakti kalawan bretya carania brahmam pakiran kiran sira haneng banwa Bantiran prasama gawyana ya werdyaning desa-desa makabehan. Nahan pakertya sewatek tanda bata mantrya ri Bantiran, pura dharmah utamam, lwirning tanda rakyan apatih sama prasanaking brahma nurunaken putra semadi astawa ni Sri Mahadewata Maharaja Dewa Lingganing Gunung Hyang, sanakira sri putra malawas-lawas bipraya anjujug nagareng Jawa Bangsul Banwa Bantiran tekeng Pura Karang....”</span></span></i></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><i><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Artinya:</span></span></i></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        </span></span><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Diceritakan perjalanan Sri Baginda Raja Jayasakti bersama para Brahmana. Setelah baginda tiba di Desa Bantiran, maka serempak rakyat baginda memperluas daerah-daerahnya. Demikian tugas-tugas para Tanda Mantri baginda di luar desa Bantiran. Mereka membangun pura tempat persembahyangan dan juga Pedarman-pedarman yang sangat diutamakan. Sekalian para Tanda Mantri dan rakyan-patih itu kesemuanya dari keturunan wangsa brahmana, menurunkan putra, berkat hasil semadi dan doa Ida Bhatara Mahadewa yang bersemayam di Gunung Hyang. Dari saat itu putra-putra baginda itu terpencar, kian kemari, pulang pergi dari Pulau Jawa ke Pulau Bali, Desa Bantiran sampai ke Pura Karang (Lempuyang)</span></span> <a href="http://(www.srikarangbuncing.com/2010/10/piagem-dukuh-gamongan-prasasti-pura.html" style="color:#0563c1; text-decoration:underline"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">(www.srikarangbuncing.com/2010/10/piagem-dukuh-gamongan-prasasti-pura.html</span></span></a><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">). </span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Desa atau Wanwa Bantiran yaitu suatu Desa yang terkenal dan ramai saat itu. Raja Jaya Sakti terpesona atas kesuburan tanah di Banwa Bantiran karena itu Beliau mendirikan istana pesinggahan yang disebut Istana Sri Anom dan sekarang di tempat itu berdiri pura  yang bernama Pura Sri Anom. Pura ini berlokasi di Banjar Dinas Aban. Tujuan Beliau mendirikan istana di Banwa Bantiran untuk mempermudah beranjangsana ke daerah-daerah lainnya dan juga menjadi persinggahan saat pergi ke Majalengka (Majapahit).</span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        </span></span><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Pada suatu ketika terjadi bencana (ada yang menyebut karena ada serangan dari para perampok dan penjahat, ada yang menyebut karena serangan semut) yang menyebabkan banyak masyarakat Bantiran meninggal, sedangkan yang masih selamat keluar atau meninggalkan desa untuk menyelamatkan diri. Para pelarian itu disebut dengan <i>aab bantiran. </i>Beberapa keluarga yang masih tinggal di Bantiran, kehidupan mereka sulit disebabkan karena semuanya telah hancur. Susahnya kehidupan yang dialami maka mereka disebut <i>saad ing </i>(orang-orang susah), lama kelamaan <i>aab bantiran </i>banyak yang kembali ke Sading. Oleh sebab itu kemudian lahirlah Desa Sading sebagai tempat mereka bertahan hidup<i>. </i>Atas keberhasilan mereka bertahan hidup di daerah Sading kemudian membangun pura sebagai simbol persatuan dan </span></span> <span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">kekuatan kebertahan hidup. Pura tersebut di beri nama Pura Gede Puseh Sading.<i> </i>(wawancara dengan Anak Agung penglingsir Puri Sading di Sading).</span></span></span></p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:21.25pt; text-align:justify"> </p> <p class="CxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify"><span style="line-height:normal"><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">        Desa Adat Sading melakukan pemugaran terhadap bangunan Gedong Kawitan pada tahun 2016.</span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 10pt"> </p>
09 Jan 2026