PURA DESA LAN PUSEH DESA ADAT SIBANGGEDE
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/sibang-gede-2-20251212120454-9BLGM.jpg" weigth="100px" /></p> <p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/untitled-1-20260108091836-bqFuK.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin-left:21.3pt; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">     </span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">Perancang Pura Desa lan Puseh Desa Adat Sibanggede adalah para leluhur Sibanggede yang merupakan arsitek alam tidak berdasarkan pendidikan formal, hanya merupakan tukang kuno yang merancang pura. Tukang ukir juga berasal dari Sibanggede, yang merancang relief-relief dan bentuk ukiran yang ada sekarang. Atap bangunan ataupun palinggih yang ada di pura ini sudah beberapa kali dilakukan perbaikan. Candi Bentar dan tembok juga direnovasi namun tetap memperhatikan dan mempertahankan bentuk aslinya, bahan yang terbuat dari bata diganti dengan bata, yang terbuat dari paras juga tetap dipertahankan dengan bahan batu paras. Tidak ada perubahan struktur dan tidak ada perubahan bentuk. Diperkirakan pura yang ada sekarang ini di buat sekitar tahun 1940-an. Namun sebelumnya memang sudah terdapat pura namun rusak akibat gempa. Di luar pura ada Kukul Pejenengan Sangkur (kentongan) yang diletakan di atas pohon beringin, kulkul ini tidak boleh dibunyikan. Dulu pernah Kulkul Pejenengan Sangkur bersuara dengan sendirinya (ciri-ciri gumi) pertanda alam. Ternyata saat itu Sibanggede mau bertempur/berkelahi dengan Desa Angantaka.  Keunikan lain, pewarna/cat pura ada yang menggunakan pewarna alami dari tanah yakni warna putih, merah dan biru. Tanah yang dipergunakan namanya tanah pere yang diperoleh dari Tegalalang-Gianyar. Fungsi cat alami untuk keawetan bangunan dan keindahan (Hasil wawancara dengan, I Made Wardana (Bendesa Adat Sibanggede). Pura Desa lan Puseh Desa Adat Sibanggede ini memiliki tiga mandala seperti umumnya pura yang ada di Bali,yaitu Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. di area utama mandala selain gedong Bhatara Desa dan Bhatara Puseh terdapat juga gedong Bhatari melanting dan pada sisi tenggara terdapat pura yang oleh warga setempat di sebut Pura Braban.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"> </p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian)</span></span></span></span></strong></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Di ceritakan sekarang tentang daerah Sibang yang terletak disisi timur aliran sungai ayung sudah sejak sedia kala dihuni oleh penduduk, terutama (dibagian selatan) yaitu Serijati dan Cabe sedangkan dibagian utara hingga daerah Mambal masih merupakan hutan belantara. Dinamakan Saibang konon pada jaman dahulu seputar sisi timur desa ditanami pohon pucuk bang (kembang sepatu merah). Setiap waktu dari jauh selalu kelihatan merah menyala sehingga daerah itu dijuluki Sai Baang (selalu merah). Tatkala kerajaan Mengwi, dibawah Cokorda Sakti Blambangan mengembangkan wilayahnya sudah tentu Anglurah Sibang Serijati ikut menyatakan takluk kepada beliau bersama-sama dengan Anglurah Pacung (Payangan), Yeh Tengah, Mambal, Blahbatuh dan lainnya lagi. Untuk mengawasi dan memerintah daerah Saibaang Serijati diserahkan kepada salah seorang Putra beliau yang bernama I Gusti Agung Made Kamasan.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"> </p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Tiba saatnya Ida Cokorda Sakti Blambangan mangkat dan diganti oleh putra beliau yang bernama Ida Cokorda Agung Made Banya. Pada suatu hari Cokorda Agung Made Banya melakukan inspeksi ke daerah Blambangan, maka untuk mengawasi Puri beliau di Mengwi pemerintah sementara diserahkan kepada kakak beliau yaitu I Gusti Agung Made Kamasan Saibaang Serijati. Timbul pikiran dari I Gusti Agung Made Kamasan untuk merebut singgasana kekuasaan adindanya menjadi raja Mengwi. Maksudnya itu disokong oleh Manggis Kuning Gianyar. Namun akhirnya gagal karena Cokorda Agung Made Banya kembali dari Blambangan, maka I Gusti Made Kamasan menyingkir beserta pengiringnya ke utara yaitu di Banjar Sayan, dan selanjutnya bersama-sama para Busana Sayan mengungsi ke daerah Den Kayu. Tanpa digubris oleh adinda raja beliau Raja Mengwi, maka perjalanan terus dilanjutkan menuju daerah Tampaksiring. Tiada beberapa lama rombongan beliau tersebut pindah ke daerah Kerajaan Badung dan oleh Raja Badung diberikan tempat di Ubung. Cukup lama beliau menetap disana disungsung oleh para Ampel Gading, akhirnya pada suatu ketika dibuatlah layang-layang yang besar dan pada ekor layang itu dikaitkan sepucuk surat untuk adinda Raja Mangwi dengan maksud bahwa beliau akan kembali lagi ke daerah Mengwi yaitu daerah Saibang Serijati, hanya beliau minta agar diberikan tambahan daerah lagi yaitu daerah Sempidi, Lukluk, Perang dan Anggungan. Tambahan pula agar beliau tidak kehilangan. Maka diharapkan agar daerah-daerah tersebur seakan-akan jatuh melalui suatu peperangan. Pada hari yang akan ditentukan bergeraklah pasukan I Gusti Agung Made Kamasan dari Ubung diiringi oleh para Busana Sayan dan Ampel Gading, menyerang dan menaklukkan Desa Sempidi, Lukluk, Perang dan Anggungan.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"> </p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Selanjutnya peperangan dilanjutkan ke Desa Tegal Saibang dan mendapat perlawanan dari rakyat tegal dibawah pimpinan Kebo Ampel. Tegalpun jatuh dan Kebo Ampel yang gagah berani akhirnya menjadi orang kesayangan beliau disamping panglima-panglima lainnya. Di Tegal beliau mendirikan puri dan lama menetap. Mulailah beliau memikirkan untuk masuk kembali ke daerah Saibang Srijati sebab harus diperhitungkan kekuatan pemimpin mereka yaitu Pasek Karang Buncing dua bersaudara masing-masing I Mica Gundil dan I Abug Maong. Penyerangan mula-mula ditujukan ke Cabe, namun induk pasukan Karang Buncing mundur dan dipusatkan disisi utara seberang sungai Ayung dengan pertahanan lembah sungai yang tangguh dan kuat. Secara diam-diam pasukan  I Gusti Agung Made Kamasan melakukan gerakan penyusupan ke utara melalui tanah ayu, kemudian menyeberang sungai ayung ke timur dan menyeberang dari utara maka kalahlah Karang Buncing dan jatuhlah Saibang Serijati di bawah I Gusti Agung Made Kamasan kembali ke Puri Tegal ditinggalkan dan mulai dibangun Puri di Sibang bersama-sama rakyat terutama para Busana Sayan. Disini beliau menetap dan beranak pinak masih dalam kaitan dengan Kerajaan Mengwi.</span></span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"> </p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span arial="" style="font-family:">     Karena perputaran jaman Mengwi mulai mundur, suatu ketika daerahnya Anglurah Mambal diserang oleh Cokorda Tapisan keturunan Sukawati sehingga kalah dan minta perlindungan kepada I Gusti Agung Ketut Kamasan diberikan bertempat tinggal di Sibang bagian utara dinamakan Sibangkaja. Demikian pula Anglurah Bun berani menyatakan diri mereka lepas dari kekuasaan Mengwi, maka terjadilah perang antara pasukan Bun yang diserang dari utara oleh pasukan Mengwi dibawah I Gusti Agung Made Munggu dan dari barat oleh pasukan Saibang di bawah I Gusti Agung Ketut Kamasan. Anglurah Bun kalah, sanak keluarganya yang menyerah ke Sibang diberi tempat tinggal di Banjar Bantas, sedang Bhagawantanya dibuatkan Geriya didekat Pura Dalem Setra Sibang dinamakan Geriya Dalem.</span></span></span></span></p>
12 Dec 2025