PURA DESA, DESA ADAT ANGGUNGAN DESA CARANGSARI
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260114110314-QYiQN.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Daerah aliran Sungai Ayung khususnya pada bagian barat, yang saat ini berada di wilayah Kabupaten Badung terutama di Kecamatan Abiansemal dan Kecamatan Petang, sangat banyak ditemukan tinggalan-tinggalan arkeologi dari periode masa klasik, bahkan beberapa ditemukan juga tinggalan dari masa pra aksara seperti misalnya kapak perunggu yang diterdapat di Pura Puseh Beng, beberapa kilo meter ku Utara dari Pura Desa Desa Adat Anggungan, Desa Carangsari, lokasi tingggalan arkeologis yang berupa Batu Pipih dan Palung Batu, yang menjadi objek penelitian saat ini. Selain dua tinggalan diatas, juga terdapat 12 tinggalan lainnya, berupa batu berbentuk silindris yang diidentifikasi sebagai fragmen bangunan. Benda-benda ini dipercaya memiliki nilai magis yang tinggi bagi masyarakat sekitar, sehingga untuk menjaga kesucian dan kesakralan benda-benda tersebut yang awalnya tergeletak di atas tanah, oleh pengempon pura diupayakan untuk membangun bebeturan, dan letak bebeturan ini dibangun di atas tempat ditemukannya tinggalan tersebut, sehingga terdapat tiga titik lokasi bebaturan sebagai tempat meletakkan benda-benda tersebut, satu bebaturan terletak di area timur laut utama mandala, menghadap kea rah selatan di sebelah utara bale piasan, bebeturan kedua terletak di timur laut halaman utampa mandala menghadap ke barat, didepan pelinggih ratu desa, dan yang ketiga terletak di tenggara area madya mandala menghadap ke selatan, di sebelah timur candi bentar dan di sebelah utara bale pesandekan. Batu pipih ini diduga adalah dasar dari suatu bangunan, karena bentuknya yang masih tidak beraturan, sedangkan palung batu berbentuk persegi empat panjang dengan lobang pada bagian tengahnya yang juga berbentuk persegi empat panjang, serta kedap air, dipercaya turun temurun dapat mengobati sakit pada hewan ternak penduduk setempat, dengan memohon air yang terdapat pada palung tersebut, kemudian diminumkan pada hewan ternak mereka. Keyakinan ini, menyebabkan benda-benda tinggalan arekeologi di atas masih terawat dan dipelihara dengan baik.  </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/3-20260114110341-MY7Xr.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><em><strong>Altar Batu</strong></em></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Sebuah Batu berbentuk persegi tidak beraturan, dengan bidang atasnya datar, dan bidang sampingnya datar tetapi bervariasi, berdasarkan data yang ada. Atas dasar tersebut, dugaan sementara diduga batu pipih ini merupakan altar sebagai tempat melatakkan sesaji.</span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260114110433-jpdXc.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><em><strong><font face="Bookman Old Style, serif"><span style="font-size: 16px;">Palungan (Tampak Atas)</span></font></strong></em></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Sebuah palungan batu dibuat dengan visualisasinya berbentuk persegi empat panjang. Pada bidang atasnya dibuat lubang berbentuk persegi empat panjang dengan bidang sisinya berpenampang. Bagian lubang ini difungsikan sebagai wadah. Oleh karena kedap air, maka wadah ini difungsikan sebagai penampung air, walaupun dalam jumlah yang tidak banyak. Di dalam tradisi lokal, di dalam konteksnya dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat setempat, benda palungan ini diyakini dapat menyembuhkan hewan piaraan yang sakit milik warga setempat melalui proses ritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.  </span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></b></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Batu Pipih dan Palung Batu ini beserta benda-benda lainnya, awalnya tergeletak di permukaan tanah. Atas inisiatif dari warga maka dibuatkan bebaturan tanpa atap, dengan tujuan untuk menjaga kesakralan benda benda tersebut, yang bagi masyarakat pengempon pura diyakini memiliki nilai magis religious.</span></span></span></span></span></span></p>
14 Jan 2026