PURA DALEM MADHYA TAHULAN
<p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span calibri="" light="" style="font-family:">Pura Dalem Madya Tahulan terletak di Banjar Uma Alas Kangin. Dahulu pura ini berada di tengah-tengah</span> persawahan namun sekarang lingkungan pura sebagian dikelilingi komplek pemukiman. Secara administratif terletak di Desa Adat Kerobokan, Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Propinsi Bali. Posisi Pura Dalem Madya Tahulan terletak pada koordinat 8° 40’ 123” Lintang Selatan dan 115° 09’ 552” Bujur Timur. Pura ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dengan jarak tempuh kurang lebih 5 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung atau 2 km dari Kecamatan Kuta Utara. Pura ini tergolong Pura Swagina yang disungsung oleh subak Basangkasa dan Subak Seminyak. Piodalan di pura ini jatuh pada panca wara Kliwon, wuku Landep dengan upacara yang dilaksanakan sesuai dengan tradisi setempat yaitu 2 kali dalam setahun silih berganti antara piodalan nadi (jelih) dan piodalan Sipeng (puyung). Pura ini dimiliki oleh 2 KK yaitu keluarga Mangku Made Kerta Dana, dan keluarga Gede Setiawan </span></span></span></p> <p style="margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260108141320-QSzBX.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span calibri="" lang="IN" light="" style="font-family:">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></b> </span></span></span></p> <p style="margin: 0in 0in 8pt; text-align: justify;"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span calibri="" light="" style="font-family:">Berdasarkan sejarahnya bahwa pura ini dulunya merupakan pura peninggalan dari penguasa wilayah Taulan. Berdasarkan Lontar BabadKerobokan disebut bahwa pada jaman dahulu sekitar tahun 1260 Saka (1338 Masehi) ada tiga penguasa di wilayah Kerobokan yaitu Jagat Lepang, Jagat Kelaci dan Jagat Taulan. Disebut bahwa putri dari Jagat Kelaci sangat cantik dan sempurna, oleh sebab itu maka pangeran dari Jagat Lepang dan Jagat Taulan sama-sama ingin menikahi putri dari Jagat Kelaci tersebut. Namun sayang pangeran dari Jagat Taulan ditolak pinangannya oleh Jagat Kelaci. Oleh sebab itu marahlah pangeran dari Jagat Taulan dan ingin membalas sakit hatinya tersebut dengan cara menyerbu ke Jagat Kelaci pada saat acara pinangan yang dilakukan oleh pangeran dari Jagat Lepang. Kata ‘menyerbu’ dalam bahasa Bali disebut <i>ngerobok. </i>Pada saat yang telah dinanti akhirnya terjadilah peristiwa menyerbu tersebut (<i>Ngerobok.</i>) sehingga terjadi perang besar antara Jagat Taulan dengan Kelaci yang dibantu oleh Jagat Lepang. Pada peristiwa tersebut banyak yang meninggal karena kejadiannya sangat mendadak sehingga darah yang keluar dari mayat tersebut mengalir seperti sungai dengan suara <i>krobok-krobok </i>(keluar dengan deras). Akibat kejadian tersebut hancurlah ketiga jagat tersebut dan kemudian wilayah tersebut dikenal dengan nama Kerobokan (Lontar Babad Kerobokan, tanpa tahun, pp. 8b-9a). Akibat kejadian tersebut banyak pura yang dulunya di miliki oleh ketiga jagat tersebut hancur berantakan tak terurus. Salah satunya adalah Pura Dalem Madya Ta</span><span calibri="" lang="EN-ID" light="" style="font-family:">h</span><span calibri="" light="" style="font-family:">ulan yang hancur berantakan dan hanya tersisa beberapa buah patung arkelogis yang teronggok di pinggiran sawah. Akhirnya sekitar tahun 1980-an, keluarga Jero Mangku Nengah Sudira terpanggil untuk melakukan renovasi Pura Dalem Madya Ta</span><span calibri="" lang="EN-ID" light="" style="font-family:">h</span><span calibri="" light="" style="font-family:">ulan hingga seperti sekarang dan sekaligus keluarga besar beliau (<i>Soroh Bendesa Manik Mas</i>) menjadi <i>pengempon</i> pura tersebut (wawancara dengan Jero Mangku I Nengah Sudira di Kerobokan). Selain sumber-sumber babad dan informan, tinggalan arkeologi yang ditemukn di situs ini memberikan petunjuk yang cukup penting untuk menggambarkan sejarah pura ini. Tinggalan arkeologi yang ditemukan di pura ini dapat dikatakan cukup banyak jumlahnya dan bentuknya bervariasi. Tinggalan arkeologi yang ditemukan adalah arca-arca perwujudan dan Dewa Ganesa. Arca perwujudan yang ditemukan di pura ini berdasarkan langgamnya diduga berasl dari abad ke-13-14 Masehi. Arca-arca perwujudan ini sebagai bentuk munculnya kembali tradisi pemujaan roh leluhur yang sudah dikenal sebelumnya. Pada masa akhir prasejarah dikenal pembuatan arca menhir sebagai media yang digunakan untuk melakukan hubungan dengan roh leluhurnya. Setelah masa Kediri, Singorasi dan Majapahit tradisi pemujaan roh leluhur dengan menggunakan media arca semakin banyak dilakukan. Hal ini sebagai petunjuk begitu kuatnya tradisi ini di kalangan masyarakat Bali kuno sehingga tinggalan yang berbentuk arca-arca perwujudan banyak ditemukan. Terlebih lagi dengan adanya prasasti yang memuat tahun <i>candra sangkala</i> yang dipahatkan pada arca bhatara bhatari berpasangan. Prasasti pendek ini “<i>tan nana rasa pasek tunggal</i>” tan nana =0, rasa= 6, pasek= 2, dan tunggal= 1. Kalau dibaca dari belakang akan didapat tahun 1260 Saka (1338 M). Angka tahun ini sejaman dengan masa Bali kuno terakhir. Penguasa kerajaan Bali kuno yang terakhir diketahui bernama Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Nama raja ini sebagai penguasa terakhir diketahui dari prasasti Langgahan yang dikeluarkannya. Dengan perbandingan berdasarkan sumber prasasti yang ada maka dapat diduga bahwa situs pura Dalem Madya Tahulan sekurang-kurangnya sudah ada sejak abad ke-14 Masehi. Setelah berakhirnya pemerintahan kerajaan Bali kuno, maka tradisi pembuatan arca-arca perwujudan tidak lagi dilanjutkan.</span></span></span></span></p>
08 Jan 2026