MERAJAN AGUNG PURI ASEMAN
<p><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/2-20260114104638-Sz4kI.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">          Pelinggih Merajan Agung Batur Kalawasan merupakan salah satu tinggalan arkeologi cukup penting yang terdapat di Merajan Ageng Puri Aseman Desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung. Peninggalan ini merupakan tonggak sejarah mengenai keberadaan I Gusti Ngurah Aseman, utusan dari Raja Mengwi yang berasal dari Puri Aseman Kerobokan Badung atas keberhasilanna menaklukkan dan menguasai abiansemal yang sebelumnya merupakan kekuasaan dari I Gusti Ngurah Lanang Dauh. Penampilan bentuk, pola dan bahan dari pelinggih ini memilki kemiripan dengan bangunan-bangunan yang ada di Pura Taman Ayun, Pura Sada Kapal, Pura maospahit Grenceng dan beberapa peninggalan sejenis lainnya yang memiliki karakter dan corak yang dikenal dengan gaya/style Badung. Karena factor usia, beberapa bagian dari bangunan ini telah mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah penyelamatan dalam rangka pelestariannya. Keberadaan Palinggih Merajan Agung Batur Kalawasan yang didirikan pada abad ke-XVIII Masehi adalah sebagai bagian dalam skala kecil yang secara konsep merupakan perkembangan pengaruh dari bangunan serupa yaitu Pelinggih Gedong Pedharman Paibon Puri yang terdapat di utamaning mandala Pura Taman Ayun Mengwi yang berskala lebih besar sebagai pedharman dari penguasa (Raja Mengwi) yang didirikan lebih dulu.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><img height="100px" src="https://disbud.badungkab.go.id/storage/disbud/image/1-20260114105111-05OoJ.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><strong><span style="font-size:12.0pt"><span bookman="" old="" style="">Pelinggih di Merajan Agung Batur Kalawasan</span></span></strong></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">          Denah/ dasar bangunan ini berbentuk empat persegi panjang, strukturnya terdiri dari tiga bagian yaitu: bagian kaki, bagian tengah (pelinggih) dan bagian atas (atap). Bangunan ini tidak memiliki dinding penuh/terbuka, konstruksi kap dan atapnya disangga oleh empat buat tiang dengan posisi berjejer di bagian depan dan pasangan tembok yang juga berfungsi sebagai dinding di bagian belakang. Di atasnya terdapat enam “tepas”/”batur” terbuat dari bahan dominan batu bata kombinasi dengan sedikit batu padas yang diukir terutama pada bagian “panukub” (permukaan bagian atas batur) dan bagian “praba” (tabing belakang batur) menggunakan perekat tanah liat. Posisi keenam batur ini menghadap ke barat berjejer dari utara ke selatan yaitu Pelinggih Pengabih Ida Dalem Nusantra; Pelinggih Ida Dalem Nusantara; Pelinggih Pengabih Ida Dalem Nusantara; Pelinggih Pengabih Ida Bhatara Sri Arya Belog; Pelinggih Ida Bhatara Sri Arya Belog; Pelinggih Pengabih Ida Bhatara Sri Arya Belog. Bagian atas bangunan terdiri dari kap berbentuk limas terbuat dari kayu dan disangga oleh empat tiang dari bahan yang sama dengan posisi berjejer di bagian depan.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">          Bagian kaki bangunan ini menggunakan pola pepalihan disebut “pesira” yaitu perbingkaian berupa pilar-pilar dengan pola yang disebut dasar, capon, pae, ganggong sebitan dan cakep gula, dengan kombinasi dari bagian bawah sampai bagian tengah kemudian terbalik kembali dengan pola yang sama ke bagian atasnya. Pola perbingkaian pilar-pilar ini mengapit panil yang juga disebut Bungan tuwung terdapat di bagian tengah-tengahnya. Bagian tengahnya (pelinggih) menggunakan pola yang sama dengan bagian kaki, bedanya hanya di tengah-tengahnya pada bagian depan terdapat pola yang disebut “lelamakan”.</span></span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">          </span></span></span></span></span></span><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Bagian kaki dan tengah bangunan ini dibuat dari pasangan batu bata sedangkan khusus untuk bagian “panukub” dan “praba” dari “tepas”/baturnya terbuat dari pasangan batu padas yang diukir dengan pola masing-masing yaiut “penukubnya” berupa “kakul-kakulan” dan “sesampiran” bagian “prabanya” berukir pola “sulur-suluran” dan “pepatran”.</span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><b><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">Sejarah dan Riwayat Penanganan (Penelitian dan Pelestarian).</span></span></span></b></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0in 0in 8pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%"><span new="" roman="" style="font-family:" times="">         Pada awalnya wilayah abiansemal dipimpin oleh I Gusti Ngurah Lanang Dauh yang memiliki kegemaran mengadakan “tajen” (sabungan ayam). Dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta, apabila dilanggar si pelaku akan dikenai sangsi. Salah satu ketentuan penting yang ditetapkan sebagai aturan dalam penyelenggaraan tajen adalah larangan tidak boleh berdiri bagi peserta selain petugas. Diceritakan pada suatu saat “tajen” sedang berlangsung ada seorang “prajuru” (perangkat) dari kerajaan Mengwi turut serta dalam kegiatan tersebut, entah disengaja atau tidak yang bersangkutan melanggar ketentuan karena berdiri pada saat tajen berlangsung. Menyaksikan hal tersebut I Gusti Lanang Dauh secara spontan marah dan sesuai ketentuan orang tersebut langsung diusir dari arena permainan. Berita tentang kejadian ini didengar oleh Raja Mengwi, sebagai raja besar yang berkuasa beliau sangat tersinggung dan merasa diremehkan karena warganya diperlakukan demikian oleh seseorang yang derajat dan kekuasaannya jauh di bawah beliau. Untuk menuntaskan permasalahan tersebut beliau memohon bantuan saudara iparnya yaitu I Gusti Ngurah Aseman dari puri Aseman Kerobokan yang merupakan “trah” keturunan Sri Arya Belog di Kaba-kaba dengan pasukan/pengiring sebanyak 40 orang yang terdiri dari “trah” Pasek Kubayan, Pasek Penyarikan, Pasek Ngukuhin, Pasek Gaduh dan Pasek Bendesa Mas dengan senjata pusaka milik Sri Arya Belog yang bernama Ki Baru Upas untuk memerangi I Gusti Ngurah Lanang Dauh di Abiansemal. Ditengah perjalanan tepatnya di atas jembatan Sri Jati Darmasaba pasukan ini bertemu dan dicegat oleh I Gusti Ngurah Mambal penguasa Puri Tengah Sibang Kaja. Setelah berbincang-bincang akhirnya pasukan I Gusti Ngurah Aseman diperkenankan untuk lewat bahkan seluruh anggota pasukan diberikan bantuan obor karena hari sudah malam. Selanjutnya diceritakan I Gusti Ngurah Aseman dengan pasukannya berhasil mengalahkan I Gusti Ngurah Lanang Dauh, dan kemudian menjadi penguasa di daerah abiansemal. Sebagai penguasa baru I Gusti Ngurah Aseman bersama pasukan pengiringnya kemudian membangun Puri lengkap dengan tempat-tempat pemujaan salah satunya Pelinggih di Merajan Agung Puri Aseman.  </span></span></span></span></span></span></p>
14 Jan 2026