MABUUG - BUUGAN
<p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:.25in; text-align:justify; margin:0in 0in 0.0001pt 0.5in"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">No. Penetapan : 103619/MPK.E/KB/2019</span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt 0.5in"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">Mabuug-buugan ( Perang Lumpur ) merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Mabuug-buugan berasal dari kata buug yang artinya tanah atau lumpur. Mabuug-buugan berarti interaksi dengan tanah atau lumpur. Tradisi ini sudah ada sejak jaman dulu dan dilakukan secara turun temurun. Hal ini bertujuan membersihkan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit yang pelaksanaannya dilaksanakan pada rangkaian Hari Raya Nyepi yaitu pada Ngembak Geni ( Sehari setelah Hari Raya Nyepi ). Dalam tradisi Mabuug-buugan ( Perang Lumpur )  ini  peserta diikuti oleh laki-laki dan perempuan dari berbagai lapisan usia. Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan. Setelah acara Mabuug-buugan selesai ,para warga bersama-sama membersihkan diri berjalan menuju pantai sisi barat desa Kedonganan.Tradisi ini memiliki makna spriritual sebagai bentuk pembersihan diri dari hal-hal negatif setelah perayaan Hari Raya Nyepi.</span></span></span></span></span></span></p>
15 Jan 2026