KEBO DONGOL
<p style="margin-left:.25in; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><strong><span style="font-size:11pt"><span style="tab-stops:77.0pt"><span style="line-height:115%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span arial="" style="font-family:">No. Penetapan : 129254/MPK.F/KB/2020</span></span></span></span></span></span></span></strong></p> <p style="margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:.0001pt; margin-left:35.45pt; text-align:justify; margin:0in 0in 10pt"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:150%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:150%"><span arial="" style="font-family:">Tradisi Kebo Dongol Adalah Tradisi Sakral, yang setiap 6 bulan dipentaskan bertempatan dengan ritual piodalan di Pura Kahyangan Dhalem Bangun Sakti. Pura Dhalem Bangun Sakti yang di sungsung oleh 1015 KK tersebar di seluruh pelosok Pulau Bali, Berlokasi di desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pujawali di Pura Jatuh pada hari Bhuda Wage Langkir dan Ida Bhatara nyejer selama tiga hari,Pada hari sabtu paing sekitar pukul 01.00 dini hari Ida Bhatara katuran masineb. Tradisi Kebo Dongol itu arca/patung berwujud menyerupai kerbau hanya boleh dibuat oleh pemangku pura. Kebo Dongol terbuat dari adonan ketan berbentuk kebo/kerbau yang dihiasi sedemikian rupa dan ditancapi bunga kembang sepatu merah (pucuk bang) dengan sanan penyangga dari tebu ratu lengkap dengan bahan nginang yaitu sirih, pamor, gambir, tembakau dan buah pinang. salah satu perangkat dalam tradisi ini adalah pembawa Kebo Dongol, hanya dilakukan oleh laki-laki yang merupakan keturunan warga Desa Adat Kapal dan dilakukan secara turun menurun dengan kriteria yang sudah berlangsung sejak awal tradisi itu ada. Kesederhanaan Tradisi Kebo Dongol dapat dilihat dari kostum yang digunakan oleh para perangkatnya, mulai dari penari hingga pembawa Kebo Dongol dan pedang sudamala, demikian juga tabuh pengiringnya. Lahirnya tradisi Kebo Dongol berkaitan dengan fenomona dan isi alam dilingkungan Desa Adat Kapal Khusunya Banjar Basang Tamiang yang dapat dikatakan sebagai penduduk asli Desa Adat Kapal. Pelaksanaan Tradisi Kebo Dongol pada hakekatnya merupakan persembahan terhadap para Dewa maupun Bhutakala.Tujuannya untuk menyeimbangkan kedua kekuatan tersebut.Alam Bhur ( dewa ) dan Alam Swah ( Bhutakala/bawah) harus diseimbangkan oleh alam Bhuah (tengah/alam manusia), sebagai makhluk tertinggi yang memiliki bayu, sabda dan idep. Pelaksanaan Upacara Piodalan yang disertai pementasan Tradisi Kebo Dongol pada dasarnya untuk menyeimbangkan alam semesta beserta isinya ya pada akhirnya untuk mewujudkan alam beserta isinya menuju pada kesucian lahir bathin. Makna penting dari Tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung ternyata berhasil mengimplementasi keharmonisan yang bersifat universal yaitu berupa pendalaman terhadap arti penting menjaga hubungan harmoni dalam hidup dan kehidupan yaitu Tri Hita Karana. Tiga hal mendasar menjadikan manusia dengsan seisinya harmoni ; yaitu terwujudnya harmoni kehidupan antara manusia dengan Tuhan ( parhayangan), manuasi dengan manusia itu sendiri ( pawongan) dan manuasi dengan lingkungan hidupnya ( palemahan).</span></span></span></span></span></span></p>
15 Jan 2026