Category Archives: Piodalan dan sejarah pura-pura di kab. badung

PURA SAD KAHYANGAN

PIODALAN PURA-PURA SAD KAHYANGAN

SEJARAH PURA DAN HARI PIODALANNYA.

  1. 1. Sejarah Pura Pucak Mangu

Pura Pucak Mangu terletak di Puncak sebuah deretan pegunungan yang terletak di sesebelah utara Danau Beratan. Sedangkan Pura Penataran Agung Pucak Mangu terletak di pangkal gunung Mangu. Di gunung Mangu ini, selain puncaknya sendiri berdiri bangunan-bangunan suci yang cukup besar, juga gunung Mangu mempunyai keistimewaan yitu mempunyai dua buah Penataran Agung.

Penataran Agung yang pertama didirikan oleh I Gusti Agung Putu, alian Cokorda Sakti Blambangan, pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi.

Penataran Agung yang kedua adalah Penataran Agung yang terletak di Desa Tinggan. Penataran Agung ini didirikan pada Tahun 1752 Saka  atau Tahun 1830 Masehi, oleh Cokorda Nyoman Mayun. Letak Pura Penataran ini adalah di sebelah timur gunung Mangu yaitu di Desa Tinggan.

Upacara piodalan Ida Bhatara di Pura Pucak Mangu dilaksanakan pada setiap Purnamaning Sasih Kalima.

  1. 2. Sejarah Pura Luhur Uluwatu

Sejarah Pura Luhur Uluwatu termuat dalam beberapa lontar, antara lain : Lontar Kusuma Dewa, Dwijendra Tattwa dan Padma Bhuwana. Dalam Lontar Kusuma Dewa disebutkan Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai salah satu Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat yang menempati posisi Barat Daya dengan menstanakan  Dewa Rudra, pada masa pemerintahan Marakata sekitar abad XI.

Di dalam Lontar Dwijendra Tattwa diceritrakan bahwa Dang Hyang Dwijendra yang diberi bhiseka Pedanda Sakti Wawu Rawuh, yaitu seorang Pendeta Hindu dari Daha (Jawa Timur) dating ke Bali bersama keluarganya dalam masa pemerintahan Dalem Waturenggong sekitar Tahun 1546 Masehi. Pada waktu itulah dikatakan beliau mendirikan Pura ini. Di tempat ini kemudian beliau moksa atau ngeluhur, sehingga lama kelamaan masyarakat menamai pura ini “Pura Luhur Uluwatu”. Jadi dengan demikian Pura Luhur Uluwatu, merupakan Pura Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan sekaligus merupakan Dhang Kahyangan.

Hari piodalan Ida Bhatara di Puru Luhur Uluwatu dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu jatuh pada hari Selasa Keliwon, wku Medangsia.

 

PIODALAN DAN SEJARAH PURA-PURA DANG KAHYANGAN DI KABUPATEN BADUNG

PIODALAN PURA-PURA DANG KAHYANGAN

SEJARAH PURA DAN HARI PIODALANNYA.

  1. 1. Sejarah Pura Luhur Entap Sai.

Sejarah Pura ini dapat diketahui dari informasi yang dikatakan oleh IGusti Ngurah Oka, pengemong Pura Pucak Bon, bahwa berdasarkan cerita rakyat, Dang Hyang Nirartha pernah melaksanakan Yoga Semadhi pada suatu tempat di ujung yang paling Timur dari Gunung Pengelengan. Berkat kepurnasidhian dari semadhi beliau, rakyat yang jauh berada di lereng pegunungan mencium bau yang harum mewangi, meliputi daerah seluruh pegunungan. Dengan adanya bau harum itulah gunung itu lalu dinamakan Gunung Bon dan dari tempat asal mula munculnya bau tersebut didirikan sebuah Pura yang dinamakan Pura Pucak Bon.

Lain lagi cerita Gede Dani, Pemangku Pura Pucak Bon, tentang asal usul Pura Luhur Entap sai. Dikatakan oleh beliau, bahwa Bhatara di Gunung Penulisan selalu “simpang” di Pura Pucak Bon apabila mau pergi ke Gunung Pengelengan dan demikian pula sebaliknya. Olehn karena itulah Pura Pucak Bon itu dinamakan Pura Luhur Entap sai yang berarti Puru Luhur yang sealalu disinggahi para Dewa. Entap artinya singgah dan sai artinya selalu. Dan dalam Babad Mengwi ada disebutkan bahwa Raja Mengwi I Gusti Agung Gede Mayun telah memperbaiki Pura tersebut pada Tahun 1832 Masehi dan pemeliharaannya diserahkan kepada penguasa Carangsari yaitu I Gusti Ngurah Gde Pacung dan masyarakat sekitarnya.

Mengenai piodalan Ida Bhatara di Puru Luhur Entap Sai, menurut penjelasan Jero Mangku Wayan Rinten, diatur dan dilaksanakan dalam 3 jenis piodalan, yakni :

Piodalan Ngebekin, dilaksanakansetiap tahun pada Purnamaning Sasih Kawelu.

Piodalan Madudus Alit, dilaksanakan setiap 5 tahun pada Purnama Kedasa.

Piodalan Madudus Agung, dilaksanakan setiap 10 tahun sekali juga pada Purnama Kedasa.

 

  1. 2. Sejarah Puru Ulun Swi.

Pura Ulun Swi, yang oleh masyarakat setempat kadang-kadang menyebut Pura Gede. Secara etimologis kata Ulun Swi dapat diuraikan sebagai berikut :

Ulun yang berasal dari kata Ulu yang artinya atas, kepala, pusat atau sumber, sedangkan kata Swi artinya sawah. Keterangan ini sesuai dengan keterangan yang ditulis dalam Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, lembar ke-18. Disamping itu arti kata Swi, juga berarti air. Jadi Pura Ulun Swi artinya Ulun Sawah atau Ulun Carik, atau pusat/ sumber kemakmuran sawah. Dengan demikian Puru Ulun Swi berarti pura pusat kemakmuran sawah.

Mengenai sejarah Pura Ulun Swi diuraikan oleh beberapa lontar antara lain : Lontar Usana Dewa, Lontr Ilikita, Lontr Babad Mengwi, Lontar Babd Jimbaran, Purana Bali. Jadi berdasarkan keterangan-keterangan isi lontar tersebut di atas, maupun keterangan-ketrangan lisan yang diperoleh dari orang-orang yang mengetahui tentang keadaan Pura Ulun Swi, terutama keterangan Ida Pedanda Gde Pemaron di Munggu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, bahwa Pura Ulun Swi di jimbaran itu pada mulanya dibuat oleh Mpu Kuturan, sekitar abad ke-11 sejaman dengan pembuatan Pura Kahyangan Jagat di bali.

Hari Piodalan Pura Ulun Swi adalah pada hari : Sukra Paing Dungulan, tiap 210 hari sekali.

  1. Sejarah Pura Pucak Tedung

Secara harfiah Pucak berarti ujung tertinggi dari dataran tinggi. Tedung adalah semacam payung. Secara mythology bahwa waktu seorang pemimpin Agama Hindu yang bernama Danghyang Nirartha atau Bhatara Sakti Wawu Rauh, mengadakan perjalanan dari daerah Pulaki menuju Pulau Bali bagian Timur, beliau beristirahat di ujung tertinggi suatu dataran tinggi (orang Bali biasanya menyebut suatu ujung dataran tinggi adalah Pucak). Pada saat beliau melanjutkan perjalanan, pajeng (tedung) yang dibawa oleh beliau ketinggalan di pucak tersebut, maka dataran itu disebut Pucak Tedung dan Pura yang dibangunnya disebut Pura Pucak Tedung.

Upacara piodalan di Pura Pucak Tedung dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon, wuku Krulut atau Tumpek Krulut.

 

  1. 4. Sejarah Pura Peti Tenget.

Berdasarkan beberapa sumber sastra dan petikan dialog Danghyang Dwijendra dengan Ki Bhuto Ijo sebagai berikut :

Terjemahannya :

“Bhuto Ijo mari ke sini jangan takut”. Si Bhuto Ijo menyembah, duduk dia menghadap dengan menunduk. Kemudian Danghyang berkata : “ Ih Bhuto Ijo, kamu menjaga pecananganku ini di sini, jika ada orang yang berniat merusak, kau harus mengusirnya”. Si Bhuto Ijo menuruti sembari menyembah dan berkata : “Hamba mohon jimat pakai senjata untuk berjaga”. Kemudian dianugrahi mantra yang berwasiat. Kembali Danghyang berkata : “Petiku di sini, kamulah yang mensakralkan, karena kamu sudah sakti, kini aku menamai tegalan ini bernama Petitenget sampai sekarang.

Berdasarkan petikan diatas bahwa di areal tempat terjadinya Pura, yang mana Danghyang Dwijendra menaruh pecanangannya dan dijaga oleh Ki Bhuto Ijo. Pecanangan tempat sirih, berupa sebuah peti dan dikeramatkan, yang dalam Bahasa Bali disebut “tenget”, keramat, sehingga daerah tersebut diberi nama Petitenget, peti pecanangan yang keramat/ kotak sirih yang keramat.

Kemudian setelah menempatkan peti pecanangan tersebut, Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menuju Uluwatu.

Piodalan di Pura Petitenget setiap 120 hari sekali, jatuh pada Hari Buda Wage, Wuku Merakih

  1. Sejarah Pura Taman sari

Pura Wulakan lebih dikenal dengan sebutan Pura Taman Sari. Pura ini letaknya di Banjar Alangkajeng, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Mengenai sejarah Pura Taman Sari tercantum dalam Pustaka Dharmayatra Danghyang Dwijendra atau Dwijendra Tattwa, bahwa Pura Wulakan yang lebih dikenal dengan Pura Taman Sari adalah Pura yang tergolong Pura Kahyangan Jagat, yakni Pura Dang Kahyangan, karena berkaitan erat dengan perjalanan suci (dharmayatra) Danghyang Dwijendra.

Piodalan Pura Taman Sari dilaksanakan paha hari Purnamaning sasih Kapat.

 

  1. 6. Sejarah Pura Sada

Sejarah Pura Sada tercantum di dalam  beberapa sumber antara lain : Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Kitab Raja Purana Bali, lontar Dharmayatra Dang Hyang Dwijendra, Kitab Bali Purba Kala, Babad Mengwi. Berdasarkan sumber-sumber tersebut di atas bahwa Pura sada adalah Pura yang sudah amat tua keberadaannya, serta pembangunannya tetap berlanjutsesuai dengan perkembangan. Pura Sada adalah tempat pemujaan Hyang Dewi Sri Murti, Bhatara Guru (Siwa) dan Bhatara Jayengrat, juga tempat pemujaan leluhur raja Mengwi, yang telah Siddha Dewata. Pura Sada tergolong Kahyangan Jagat, karena disungsung oleh semua lapisan masyarakat. Keberadaan Pura ini disinggung dalam penjelasan singkat salinan tamra (tembaga) Prasasti Karaman Kapal, yang dibuat atas perintah Raja Sri Maharaja Jaya Sakti (1133-1150). Di dalamya disebutkan “nama Pura Purusadha singkatan dari Pura Prasadha yang dipugar selama zaman keemasan Majapahit. Pura Purusadha ini dipersembahkan kepada Siwa Guru dengan Bhatara Sakti Jayengrat dan Bhatari Sri (Manik Galih).

Piodalan di Pura Sadha jatuh pada hari Sabtu Keliwon, Wuku Kuningan.

  1. 7. Sejarah Pura Gunung Payung

Kata Payung yang diberikan untuk nama bangunan suci ini bukanlah diambil dari lokasi perbukitan yang menyerupai paying. Akan tetapi, pemberian nama ini sangat terkait dengan perjalanan suci dan Maharesi suci Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra. Berdasarkan pada lontar perjalanan suci (dharmayatra) Maharesi Danghyang Dwijendra, disebutkan setelah Maharesi datang ke Pura Luhur Uluwatu dan memberikan nasehat kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan dan menjaganya, Danghyang Nirartha kemudian melakukan perjalanan ke arah timur melalui daerah berbukit.

Ketika tiba di sebuah daerah yang sangat indah dan memiliki vibrasi spiritual yang kuat, tepatnya di sebelah barat daya Bualu (sekarang Desa Adat Kutuh), Danghyang Nirartha bersama dengan para pengiringnya beristirahat untuk melepas lelah dan menikmati indahnya pemandangan yang ada di tempat beliau berpijak tersebut. Mendengar kedatangan Maharesi, masyarakat sekitar pun dating berbondong-bondong mengaturkan sembah dan mohon tuntunan agama kepada beliau. Setelah mendengarkan keluh kesah warga dan memberikan tuntunan kepada masyarakat sekitar, maka Danghyang Nirartha berusaha untuk memenuhi permintaan warga. Danghyang Nirartha lantas menancapkan gagang paying yang dibawanya. Berkat kekuatan spiritual yang dimiliki, secara tiba-tiba menyemburlah air suci dar tancapan gagang payungnya tersebut.

Air suci dan bening tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh beliau, para pengiring dan masyarakat sekitar. Sebelum Maharesi meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan suci kembali, beliau member nasehat kepada masyarakat sekitar agar senantiasa menjaga air amerta (air kehidupan) yang keluar dari tancapan paying tersebut. Masyarakat sekitar dilokasi air suci itu didirikan sebuah Pura yang kini dikenal dengan Pura Gunung Payung.

Piodalan di Pura Gunung Payung dilaksanakan pada hari Purnamaning sasih Kawulu.